Minggu, 13 Oktober 2013

Rindu yang beradu



Untukmu,
seseorang biasa yang baik tingkah maupun rupa
dari seseorang yang menganggapmu istimewa

Ada yang merindukanmu
diantara derik jangkrik
tangis gerimis
dan manjanya senja
 “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan butiran air kepada awan yang menjadikannya hujan”

Hari minggu. Pagi ini kudekap angan,  hanya dingin yang merasuk dalam ragaku, namun terasa dalam biasnya ada sapamu. Sapa yang dulu selalu kau lempar pada pagiku, sapa yang dulu menjadi awal senyum dipagiku; melihatmu, mendengarmu, dan merasakan aroma hadirmu masih terpaku hingga kini, walaupun itu tak ada lagi ragamu dimataku.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi surga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Siang ini kubawa rinduku dalam kantung-kantung plastik, mengemasnya meski tak rapi dan mengikatnya erat agar tak lenyap. Lalu kusimpan dalam tas dan memastikan takkan pernah jatuh. Sore ini aku menatanya dikamar, pada bingkai-bingkai yang pernah kupamerkan ke teman-temanku. Lalu kupandang, kemudian memastikan ia tak akan hilang. Malam ini kubawa bermimpi pada jalan menuju pelangi. Pada langit diujung sana, ada bintang yang menderang; sebuah harapan

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang aku terlalu menyesali pintu yang tertutup, hingga aku tidak melihat pintu lain yang telah terbuka.

Ceritakan padaku tentang pedihnya sebuah kehilangan, yang terbang diatas awan senja merah saga dan menyisakan ngilum menikam didada. Dalam derap waktu yang bergegas akan segera kubaluri hatimu dengan sejuk bening embun dan tulus cintaku.

Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta, di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.
Ceritakan padaku tentang perihnya sebuah pengorbanan yang membakar habis segenap asamu dan meninggalkan sepotong lara mengendap didasar kalbu agar kubuatkan untukmu. Rumah diatas awan tepat dipuncak larik pelangi, yang kubangun dari setiap desir rindu dan khayalan, merangkai impian bersamamu. Dari bilik hatiku, yang senantiasa percaya kebahagiaan kita adalah keniscayaan tak terlerai. Aku mohon kalau kau mau pergi maka pergilah dengan kebahagiaan dan jika kamu ingin menetap dihati yang sudah siap ini, menetaplah dengan tegap. Terima kasih :’)