Sabtu, 21 September 2013

Yaudahlah




Semua tidak akan ada artinya jika hanya sebatas kata-kata. Semua tidak akan ada hasilnya jika hanya memendam rasa. Jatuh cinta diam-diam memang tidak mengenakkan, saat aku hanya diam memendam rasa rindu yang ada; menyakitkan. Faktanya aku tidak selalu tegar. Aku hanya tidak menunjukkan betapa rapuhnya diriku kepada mereka yang tidak pernah peduli padaku. Saat aku cuman bisa diam saat aku cemburu melihat kamu digandeng orang lain, itu sangat sangat menyakitkan.

 Apa aku harus menunggu? tetapi apakah menungguku ini menghasilkan sesuatu yang menyenangkan atau malah akan sangat menyakitkan? Entahlah yang aku tau, aku terus bersabar hingga batas kesadaran karna aku yakin cinta bukan kebodohan karena cinta adalah kebahagiaan.

Kamu adalah seseorang yang membuatku menjadi pribadi yang lebih ikhlas. Ikhlas dalam mengucap, ikhlas dalam melakukan, serta ikhlas dalam merelakan jika bahagiamu bukan padaku. Dan Ketika kita berpisah dan kamu menemukan penggantiku semoga saja dia bisa memberi apa yang pernah kuberi untuk membahagiakanmu dan bahkan lebih dariku.

Menurut temanku; Jangan terus tinggal di masa lalu. Dia yang telah buatmu terluka, tak pantas ada di benakmu. Buka hatimu, biarkan cinta menyembuhkanmu.

Aku emang tidak mudah untuk membuka hati tetapi aku akan menunggu orang lain untuk mengetuknya dan ketika aku dimiliki oleh orang lain jangan menoleh padaku lagi dan menyesali kepergianku ini.Terima kasih:')

Senin, 09 September 2013

Kamu Hidup Dalam Kisahku




       Awal bertemu denganmu adalah sesuatu yang sederhana yang tak terkira. Saat aku baru mengenalmu ada yang kusuka darimu; senyum mengembangmu. Hanya kamu yang cerah disaat itu, hanya kamu yang membuat aku merasa tertarik. Dan disaat itu, aku rasa aku merasakan apa yang disebut dengan; Jatuh Cinta.

 When you are sad.. I will dry yours tears.
  When you are scared.. I will comfort yours fears.
 When you are worried... I will give you hope.
 When you are confused... I will help you cope.
  And when you are lost... And cant see the light,
 I shall be your beacon... Shining ever so bright

       Aku ingin melihatmu tersenyum sekali lagi, saat aku tau kamu sedang terlukai. Aku ingin kamu menyadari sebentar saja, karna aku rela menunggumu selamanya. Aku suka saat kamu tidak pernah menganggap selebritas dan bersikap apa adanya, tanpa pretensi. Apakah artinya sebuah mimpi? sesuatu yang diinginkan, sesuatu yang harus dicapai atau cuman sekedar fragmen harapan? Apakah semua orang harus memiliki mimpi? Yang aku tau aku hanya bermimpi dapat selalu bersamamu.

 I dont wanna run away but I cant take it I dont understand
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there anyway that I can stay in your arms
If i dont need you then why am I crying on my bed
If i dont need you then why does your name resound in my head


       Mana mungkin aku menolak kedatanganmu, sementara namamu telah datang sebelum aku menarik nafas pertamaku. Aku ingin segera menyeberangi lautan dan melompati gumpalan awan, menembus batas jarak dan rindu untuk segera bertemu denganmu.



No matter how cold the weather,
No matter how long the journey,
No matter how dark the day,
The ultimate reason he's strong enough.
is...
He knows,
God loves her forever
God loves her till the end
when he laughs
when he cries
when he runs
when he walks
God is always there


       Aku membutuhkan kata untuk kurangkai agar kamu tahu segala isi hatiku. Aku membutuhkan aroma wewangian untuk kukirim lewat angin, agar kamu dapat membaui aroma cintaku. Aku mendambakan sebuah gelombang yang dahsyat, agar aku segera dapat terdampar dipulaumu. Aku juga membutuhkan tanah untuk menanam benih cinta yang sempat kamu titipkan padaku sebelum kamu pergi. Dan aku harus merasakan kepedihan yang teramat sangat, karena aku membutuhkan tetes-tetes embun penderitaan untuk mengobati dahaga rindumu. Ketika cinta tidak harus memiliki adalah suatu pilihan yang pahit, sedangkan aku tetap menjaga perjanjian suci, aku percaya, akan datang suatu waktu dimana cinta itu akan kembali padaku.

  Bulan emas tinggal separuh
  Bintang bintang sangat pemalu
Kau terduduk disampingku
Aku lantas mencintai bayangmu
Kau menoleh untuk tersenyum
Htiku berserakan... Lebur dan lepuh

       Dan ketika pintu tertutup, akan ada pintu yang terbuka nantinya, disuatu tempat, disuatu masa. Kecuali pintu hatiku, hanya untukmu. Tidak ada yang berubah. Kita masih saling memiliki; dulu, sekarang, dan selamanya. See you.

Long Distance Relationship




      Cara merawat hubungan sama halnya dengan merawat bunga mawar. Sewaktu merawat bunga mawar, selalu ada celah duri yang mengenai jemari tangan hingga terluka, ada pula saat bunga mawar tidak disiram maka akan layu dengan sendirinya. Begitu pula merawat hubungan, seseorang akan mengalami luka jika disakiti dan jika masing masing tidak menyiram kehidupan pasangannya maka cintanya akan layu.
     
     Hubungan jarak jauh sulit, sangat keras dan tidak ada orang lain cukup mengerti. Ada lebih banyak alasan untuk melawan, menangis, dan untuk memecahkan masalah, namun jaraknya juga memberi kita alasan untuk mencintai lebih keras daripada pasangan lain seharusnya. Untuk berjuang lebih keras, karena pada akhirnya, kita memiliki sesuatu keuntungan. Kita memiliki jarak untuk melawan pikir dan kedekatan untuk memperjuangkan. Kita menempatkan seluruh raga kita dalam hubungan ini dan walaupun kita tidak dapat memegang tangan sesering mungkin, atau pelukan sesering mungkin, tetapi setiap sentuhan adalah special, setiap pelukan penuh kenangan. Kita mungkin dipisahkan oleh ruang dan waktu, tetapi ikatan adalah yang terkuat.

Long

     Kamu disana dan aku disini, harus ada kata percaya disaat kita berdua jauh, kepercayaan yang kuat akan memenangkan hubungan kita. Aku mendoakanmu disini dan semoga kamu pun juga begitu, Aku selalu menunggu ketika jarak diantara kita berdekatan, ketika aku dan kamu bertemu. Apa kabarmu sekarang? Aku tau tanah yang kita pijak tidak lagi sama, awan yang menaungi kita juga berbeda. Disaat aku melihat awan seputih kapas, mungkinkah kamu disana justru melihat awan kelabu? Satu hal yang harus kamu tau.. I love you till the end.


Distance

     "Distance means so little when someone means so much". Jarak ini hanya tantangan atau percobaan apakah kita bisa melewatinya atau tidak, aku yakin kamu dan aku dapat melewatinya seberapapun jauh jaraknya tanpa harus ada orang lain yang berlabuh dihati kita masing masing. Dengan jarak, seseorang dapat menimbang dan menakar. Dengan jarak, seseorang dapat saling merindu. Jarak antara aku dan kamu adalah bentangan kerinduan tempat kami membangun jembatan hati, yang tidak akan perna putus.

Relationship

     Dalam cinta, banyak pengorbanan yang harus dibayar. Tanpa kamu dan aku harus bertanya mengapa itu ada. Tanpa kamu dan aku harus terus merasa kalah atau menang. Tanpa kamu dan aku harus bertahan demi cinta itu sendiri. Mengapa burung-burung itu kembali pulang ke sarangnya? Apa karena 'kembali' itu adalah pasti? Kembali kedekap pelukanmu saat kamu kembali. Aku selalu menunggu itu....

    
      
 

Minggu, 08 September 2013

Ayah, Anak dan Sahabat



   “Bahkan hujan pun tak akan pernah bisa menggantikan air mata ayah, kar. Setelah kuhilangkan rasa kepercayaannya.”
“Aku rasa dia bisa memahaminya, mel” Fikar berusaha menenangkan kegelisahanku.

     Kali pertama aku merasa kecewa atas sikapku. Sore itu kuhabiskan waktuku bersama senja yang menjelma menjadi kelam. Tidak seperti senja yang pernah kulewati sebelumnya. Kali ini hatiku merasa hampa setelah kukecewakan ayah. Sosok yang hampir tak pernah kulihat menangis disepanjang hidupnya. Namun hari ini air mata itu tumpah, menjebol benteng ketegarannya. Maafkan aku yang tiba-tiba khilaf, ayah.

     Senja telah menjelma menjadi malam. Namun kuurungkan niatku untuk pulang kerumah. Karena kurasa aku tak akan sanggup menatap wajah ayah. Kembali bayang ayah berputar-putar diotakku. Tiba-tiba tubuhku terasa ringan dan melayang, dan akhirnya tubuhku terjatuh. Namun dengan sigap fikar menangkapnya hingga tubuhku tak sempat terjerembab pada pasir dipantai itu.
“Kau tak apa, mel? Kau kelihatan pucat”.

     Aku menggeleng lemah. Fikar memapahku untuk duduk. Sementara bayang ayah masih saja berputar-putar diotakku, membuat dadaku terasa sesak. Air mataku tak dapat kubendung. Tumpah diantara kilau pasir laut dan menghilang dengan garang. Seolah-olah pasir pun tak ingin menerima air mataku yang telah durhaka dan menghilangkan kepercayaan ayah. Saat-saat seperti ini selalu kurindukan ibu. Namun kusadari aku tak mampu lagi memeluknya karena kurasa beliau telah tenang disisi Tuhan. Jadi hanya dengan tangis kuluapkan bebanku.

     “Amel, lebih baik kau pulang. Ayahmu pasti menghawatirkanmu. Angin laut tak baik untuk kesehatanmu”.

     “Untuk apa aku pulang, kar. Sementara air mata ayah tak kunjung berhenti. Aku berdosa karenanya”

     “Mel, aku mengenal ayahmu sejak kecil, aku yakin beliau tak akan tega membiarkanmu lebih tersesat. Ia pasti akan menjemputmu dan menjadikanmu gadis kecilnya lagi”

      “Pulanglah, Kar. Aku butuh sendiri.!”

      “Mel” Fikar masih berusaha membujukku.

      Aku hanya tersenyum memberikan tanda bahwa aku baik-baik saja. Fikar kecewa. Ya lebih baik begitu. Hampir dua puluh tahun kami bersahabat, tak pernah kulihat ia kecewa terhadapku. Tapi mungkin lebih baik begitu, agar nanti saat senja kembali berteman denganku, aku bisa merasakan bahwa kehadirannya begitu berarti. Begitu egoiskah anakmu, ayah? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dibenakku.

     Sudah kuputuskan malam ini aku tak akan pulang kerumah. Aku akan menginap dirumah Vina, teman kuliahku. Aku rasa aku tak akan sanggup melihat air mata ayah malam ini. Maafkan Amel, ayah. Tapi Amel tak akan sanggup melihat air mata ayah jika Amel pulang kerumah. Biar Dada Amel yang semakin sesak menahan air mata ini.
***

     Senja kedua yang kuhabiskan hari ini masih sama setelah kemarin kubuat air mata ayah membasahi pipinya. Aku rapuh, ayah, aku rapuh tanpamu. Mungkin hujan senja juga tak akan menggantikan tangis diwajahmu. Lalu harus dengan apa aku menebusnya? Sebab kurasa luka yang kubuat dihatimu telah menghitam.

     Kurasa kemarin adalah kematian untuk hatiku. Sebab lukaku semakin bertambah perih saat pelangi dimata ayah tergantikan dengan air mata. Ingin kutebus semua luka kemarin, ayah. Agar aku kembali melihat pelangi dimatamu, agar aku kembali melihat senyum ketegaran diwajahmu. Durhakakah aku ayah? Aku hanya ingin kembali kepelukanmu, menjadi gadis kecilmu yang lugu, yang selalu mendengarkan nasehat-nasehatmu. Namun hatiku terlalu beku untuk meminta maaf padamu. Manusia seperti apa aku ini! Yang tega menebar air mata diwajah senjamu. Jahatkah aku, ayah? Maukah ayah memaafkanku? Tiba-tiba dadaku terasa semakin sesak dari hari kemarin. Aku menangis, disaksikan senja yang belum sempurna tenggelam. Mungkin senja sengaja ingin mencibirku yang telah durhaka padamu. Atau bahkan ia ingin melihatku hujan air mata penyesalan. Entahlah, ayah, yang kufikirkan saat ini adalah bagaimana aku bisa meminta maaf padamu.

     Kupeluk lututku, kubenamkan wajahku dalam-dalam. Ingin rasanya kuakhiri hidupku hari itu juga. Namun lagi-lagi wajah ayah berputar-putar dalam otakku. Kalau saja aku tak teringat padamu, ayah, mungkin kini aku tinggal jasad yang tak dapat ayah kenali. Sebab tadi pagi aku berniat berdiri ditengah jalan menunggu mobil membawa nyawaku kembali kepangkuan Tuhan. Namun karenamu, ayah, aku masih bertahan.

     Sore itu, senja belum sempurna menghilang ketika kurasa rambutku dibelai tangan yang sangat kukenali. Ayah, benarkah itu tangan ayah. Fikirku. Kuangkat wajahku berlahan. Kusaksikan wajah dan senyum ayah. Ya Tuhan, ayah tersenyum padaku. Tiba-tiba hatiku terasa nyilu. Seorang ayah yang telah terluka olehku masih sanggup tersenyum. Anak macam apa aku ini. Seketika itu aku membaur kedalam pelukan ayah dan berlutut dikakinya.

      “Maafin Amel, ayah”
   
    Ayah menuntun aku untuk berdiri, masih dengan senyum. Hatiku terasa getir saat itu. Kutangkap hujan senja diwajah ayah. Aku tau saat itu ayah sedang menangis, namun ia sembunyikan itu sebab tak ingin melihatku merasa bersalah. Namun itu justru membuat air mataku semakin deras mengalir.

    Jadilah hari itu hujan senja bagi kami. Kebisuan demi kebisuan menenggelamkan kami untuk berbicara, antara aku dan ayah. Mungkin saat itu senja menantangku untuk meminta maaf pada ayah. Senja pandai menaklukanku, ayah. Harus seperti apa kumulai pembicaraan untuk meminta maaf padamu. Ah, tiba-tiba aku merasa bodoh. Bukankah dia ayahku, kenapa aku terlalu takut untuk memulai pembicaraan.

     Kutatap wajah ayah dalam-dalam. Rona wajahnya berubah menjadi sendu. Oh, ayah, aku benar-benar berdosa padamu. Seharusnya malam itu aku mendengarkan nasehatmu. Namun Fikar telah membutakanku hingga aku berani melawanmu. Diam-diam kukutuk lelaki itu. Ia telah mengambil semua yang aku miliki, mengambil yang seharusnya aku jaga baik-baik.

     “Mau kemana kamu nak” tanya ayah padaku suatu malam.

      “Amel mau pergi dengan Rehan, yah”

   “Rehan?!” tiba-tiba nada bicara ayah meninggi. “Sudah berapa kali ayah bilang padamu, Amel . Rehan bukan pria baik-baik!”

      “Ayah, Amel sudah dewasa. Amel bisa menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Rehan pria baik-baik, ayah. Rehan selalu memberikan apa yang Amel mau. Biarkan Amel jatuh cinta pada Rehan, Ayah”.

      “Tidak Amel ! Sampai kapanpun ayah tak akan merestui hubungan kalian”

    Diluar rumah Rehan telah menunggu. Namun ayah menyuruhku masuk ke dalam kamar. Kuturuti apa yang dikatakan ayah. Namun tanpa sepengetahuan ayah, aku melarikan diri lewat jendela dan menemui Rehan. Entah setan apa yang merasukiku malam itu, untuk kali pertama aku membangkang perkataan ayah demi lelaki yang baru aku kenal beberapa minggu belakangan ini.

    Malam itu kuhabiskan hidupku untuk berkeliling menghirup udara segar setelah ayah memarahiku. Setelah lelah berkeliling Rehan mengajakku makan disebuah restoran ternama. Namun tanpa aku sadari, malam itu adalah malam bencana untukku. Rehan ternyata telah menyiapkan rencana. Minuman yang ia tawarkan kepadaku telah ia campur dengan obat tidur. Dan aku tak sadarkan diri setelahnya. Entah apa yang terjadi padaku malam itu. Aku tak tau.

     Pagi harinya aku baru tersadar. Betapa terkejutnya aku saat kutahui Rehan telah mengambil segalanya dari hidupku. Mengambil yang seharusnya kujaga untuk suamiku kelak. Aku menangis setelah menyadari apa yang baru saja terjadi padaku. Ya lelaki itu telah mengambil segalanya. Bayangan ayah tiba-tiba melintas dibenakku. Oh, ayah, andai aku mengikuti nasehatmu, tentu tak akan seperti ini jadinya. Aku mengutuk diriku sendiri juga lelaki yang bernama Rehan. Laki-laki itu hanya meninggalkan pesan. ‘Terima kasih sayang’. Yang dapat kutangkap dari pesan itu hanyalah Rehan telah mempermainkanku untuk melampiaskan nafsunya.

     Aku hanya mampu menangis. Sangat dalam. Hingga kurasakan sekelilingku gelap. Aku tak sadarkan diri. Menjelang siang aku baru kembali pulang kerumah. Ayah telah menungguku dihalaman rumah. Dari raut wajahnya kutangkap kemarahan yang begitu dalam. Aku tau ayah akan marah melihat anak gadisnya pergi malam-malam dan baru pulang setelah hari menjelang siang. Dan kurasa semua ayah didunia ini pun akan melakukan hal yang sama pada anak gadisnya.

     Hari itu, aku bagai disambar petir disiang bolong. Untuk kali pertama ayah menamparku. Aku bahkan tak akan pernah menyangka ayah begitu tega menamparku. Aku menangis. Berlutut dikaki ayah. Kuceritakan kronologis kejadian yang menimpaku. Dan setelah itu ayah menangis. Tuhan, betapa jahatnya aku yang tega membuat ayah menangis. Ayah membanting pintu, sementara aku masih menangis tersedu dihalaman rumah.
Aku menghela nafas berat setelah mengingat kejadian malam jahanam itu. Kembali kutatap senja sore ini. Mataku sudah sembab oleh air mata. Sementara disampingku ayah masih menemani.

      Ayah adalah sosok yang tak dapat kuuraikan dengan kata. Hadirnya tak pernah terduga. Kadang ia hadir saat aku sedang terluka. Kadang ia juga hadir saat aku sedang tersenyum bahagia. Namun kini betapa teganya aku membuat air mata membasahi pipinya. Ayah, andai waktu dapat kuputar ulang, aku ingin kembali pada hari sebelum aku kehilangan segala yang aku punya, agar aku tak melihat air matamu.

      “Ayah” Aku berusaha mencairkan suasana sore itu.

      “Sudahlah nak. Ayah telah memaafkanmu”

      “Tapi, ayah…”

   “Semua telah terjadi, jika ada waktu untuk kembali jalan satu-satunya adalah dengan memperbaiki diri”
     
     “Maafkan Amel, ayah”

    Ayah mendekapku. Aku benar-benar merasa bahagia walau hatiku masih terasa sakit. Dalam hati aku menyesali semua yang telah kulakukan.
Amel, Menikahlah”

   Menikah! Kata-kata ayah bagai menikam ulu hatiku. Bagaimana mungkin aku menikah sementara aku seperti ini.

     “Ayah, bagaimana mungkin Amel menikah?”

     “Amel, usia ayah sudah semakin senja. Ayah ingin menimang cucu darimu. Menikahlah”

    “Baiklah, ayah. Amel akan menikah untuk menebus kesalahan Amel. Tapi….”

    “Menikahlah denganku, Mel”

   Fikar berlutut didepanku dengan cincin ditangannya. Aku hanya terdiam, terkejut. Ayah tersenyum kepadaku, lalu mengangguk memberi tanda bahwa ia merestui aku dan sahabatku Fikar untuk menikah. Aku menatap Fikar.

     “Kar, Bagaimana kau…”

    " Maka bolehkah aku memilihmu menjadi ibu dari anak-anakku? Biar senja dan ayah yang akan menjadi saksi cinta kita”

     “Tapi Kar, aku…” aku tak sanggup meneruskan kata-kataku.

     “Kuterima kau apa adanya Mel”

     Jadilah hari itu senja bersaksi atas perjalananku. Dan Fikar meminangku dihadapan ayahku tepat saat senja kembali keperaduan waktu. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba menelusup masuk ke dalam hatiku hari itu.

     Satu bulan selanjutnya

   Dibawah temaram senja Fikar mengucap janji setia sehidup semati dihadapan ayahku, penghulu, dan beberapa saksi. Hari itu kusaksikan ayah kembali menangis demi melihatku telah lepas dari beban hidupnya. Lagi-lagi hari ini hujan senja diwajah kami. Namun hujan senja hari itu bukanlah kesedihan, melainkan air mata bahagia. Oh ayah, tak akan kubiarkan air matamu jatuh lagi. Aku janji padamu.

Raport untuk Ayah



       Perlahan matahari mulai terbenam ditelan luasnya lautan di pinggir pantai. Mengisyaratkan harmoni malam akan datang bersama kesejukan angin darat. Para nelayan sibuk mempersiapkan perlengkapan melaut untuk mencari nafkah di kala angin darat menyapa dengan mengajak nelayan bergegas memanfaatkan kekayaan laut nusantara ini . Mengingatkan kita sebuah julukan negara Maritim, julukan yang pernah diberikan oleh orang asing kepada nusantara ini. Sebuah harmoni di malam hari, kemesraan para nelayan dengan alam telah tersaji sejauh mata memandang dari menara tebing pantai. Aku pun turun dari menara, meyusuri licinnya hutan pantai ke arah bawah dengan hati-hati sambil berlari. Aku tidak sabar ingin bertemu ayahku sebelum beliau melaut. Ku genggam erat selembar rapot nilai-nilai SMK Pelayaran ku yang memuaskan. Walaupun ku terjatuh karena licinnya jalan yang kutapaki, walaupun kaki terjegal oleh batang pohon yang telah mati karena gelap, tidak terlintas rasa sakit di dalam benakku, hanya ada keinginan kuat untuk membuat Ayahku tersenyum bangga. Aku tak bisa menunggu hari esok memberi tahu kan nilai rapotku, aku ingin segera memberitaukannya kepada Ayahku. Akhirnya Aku sampai di bibir pantai, menghampiri ayahku yang sedang mengangkat kain jala ke dalam perahu. “Ayah !!! Teriak sang anak yang masih mengenakan seragam sekolahnya. 

    “Duh nak, ada apa ? ini udah malam, entar ibumu prihatin dirumah dengan keadaan mu, apalagi ibumu sedang mengandung adekmu “. Tanya sang Ayah dengan wajah penuh heran dengan nada kesal. 

   “Maap yah, aku kesini untuk memperlihatkan nilai raport ku “. Sang anak menjawab dengan nada pura-pura takut serta wajah yang kurang enak, untuk menipu sang ayah agar terlihat surprise. 

    ” Pasti nilai raport mu banyak merahnya nih nak kayak sebelum-sebelumnya”. Sambil menarik dengan pelan selembar raport dari tangan sang anak. Sang ayah lalu tersenyum dengan penuh kebanggaan terpancar dari wajah lumayan keriput beliau. 

   ” Nak, ayah senang dan bangga punya anak kayak kamu”. Dari 8 mata pelajaran yang tertera di selembar raport ku, semua nilai di atas 80. Kemudian Ayah melemparkan sebuah pertanyaan kepadaku. ” Nak ini hasil yang jujur apa ini hasil nyontek waktu ulangan ?"
  “Enggak nyontek Ayah, ini hasil yang jujur, jerih payah ku sendiri. Semenjak Ayah menasehati ku di rumah saat pembagian raport semester kemarin”. Dengan penuh keyakinan, sang anak menjawab. Ayah pun tersenyum bangga akan perannya. Kewajiban seorang Ayah dalam berperan untuk mendidik anak, menjadi motivator sekaligus penasehat sang anak. “Nak, Ayah melaut dulu ya, Ayah sudah ditunggu teman-teman ayah untuk melaut “. 
 
     ” Insya Allah kalo cuacanya bagus, Ayah pulang jam 12 siang besok”. 

    “Langsung pulang ya nak, kasihan Ibumu nungguin kamu tuh nak”. Ujar sang Ayah sembari bergegas menuju perahu dan membawa selembar raport untuk diperlihatkan kepada teman-temannya. 

     " Okeeee Ayaaaahhh ” !! Aku langsung pulang “!! Sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Akhirnya aku meninggal kan bibir pantai untuk menuju rumah ku dengan merasa bahagia dapat membuat Ayahku bangga kepadaku. Karena nasihat Sang ayah pada saat pembagian raport semester kemarin. Teringat kembali Nasihat manis itu dan jawaban nakal dari mulut labilku . 

      ” Nak, kenapa nilai raport mu jelek ?" Tanya Sang Ayah. 
    
     “Ah malas aku belajar pak, gak ada untungnya belajar”. Sekolah juga gak bikin kita sejahtera kok, malah Ayah sering kekurangan uang untuk menyekolahkan ku”. “Mendingan aku ikut melaut sama Ayah di laut”. Jawab sang anak dengan penuh kekesalan.

     Sambil mengelus dada, Sang Ayah membalas jawabanku. “Nak, Jadilah orang yang luar biasa! ya, Ayah mengerti kepedulianmu terhadap Ayah yang membanting tulang untuk menyekolahkanmu, kadang ayah tidur 3 jam untuk bekerja secara halal demi kamu nak”! Ayah ingin kamu sebagai anak laki-laki satu-satunya, lebih dari seorang Ayah mu sendiri ! Ayah mu hanyalah seorang nelayan nak, jangan lah ikutin jejak Ayah mu ini”. “ Ayah bilang ini itu buat kamu nak! buat hidup kamu! tidak ada kan kamu belajar pintarnya buat ayah, kamu olahraga sehatnya buat ayah, tidak ada kan! Jika kamu sukses pun ingat kata ayah ini. Belum tentu ayah minta sepeser pun dari kamu! tapi yang namanya kebanggaan lah yang membuat Ayah selalu memikirkan pendidikan mu”. Pada saat mendengar nasehat ayahku sendiri, aku pun meneteskan air mata dan langsung kupeluk erat-erat dan sekuat mungkin seiring derasnya air mata ku yang mengalir dari mataku dan mengaliri pipi ku. Dan Ayahku, juga memelukku seerat mungkin dan tangannya mengelus-elus bagian belakang kepalaku. Tambah sedih aku merasakan tangan Ayah yang mengelus-elusku, seakan-akan aku lupa aku sudah duduk di bangku SMK , serasa kembali menjadi anak SD lagi. Kemanjaan ku terulang lagi pada saat aku memeluknya. Akhirnya aku pun sampai dirumah, sembari mengingat kejadian itu. Kenangan yang tak terlupakan dengan ayahku. 
 
      “Assalamualaikum ibu” .. Sambil mengetuk pintu rumah. 

     “Wa’alaikum salam”. jawab sang Ibu sambil membukakan pintu dan berkata. “Dari mana aja kamu nak, ibu khawatir ma kamu, kamu gak kenapa-napa kan” ? tanya sang ibu dengan penuh rasa perhatian. 
  
    “Gak papa bu, tadi aku nyamperin ayah, ngasih raport ke ayah”. “Dan Ayah bahagia banget bu tadi liat raport ku, sampai-sampai raportnya di bawa juga bapak melaut. Jawab sang anak sambil tersenyum. Ibu pun juga ikut merasa bahagia kepadaku. Akhirnya ibuku yang sedang mengandung calon saudara ku satu-satunya, memasakkan aku makan malam dan setelah itu aku makan malam bersama ibuku dirumah yang sederhana ini. Ternyata Malam itu adalah Malam terakhir aku melihat Senyuman Kebanggan terakhir Sang Ayah Kepadaku. Enam hari sudah berlalu, Ayahku tidak pulang-pulang. Rasa kekhawatiran sangat lah menggerogoti batin ku dan ibu ku . Bagaimana keadaan Ayahku ini, pertanyaan itu yang selalu menghantui di kala menunggu sang Ayah pulang, rasa gelisah pun memuncak. Hanya doa yang ku panjatkan setelah ku shalat. 

      Akhirnya keesokan harinya, ada seorang petugas kepolisian mendatangi rumah ku, aku bisa menebak kedatangan polisi itu. “Permisi bu, bener nih rumahnya Bapak Obi ? tanya polisi dengan nada sopan. 

     “Bener pak, kenapa pak - kenapa pak ? jawab sang Ibu dengan tangisan sambil melontarkan pertanyaan. Ibuku sudah bisa menebak berita apa yang disampaikan Pak Polisi tersebut. Saya pun memeluk ibuku dan mencium perut Ibuku yang sedang mengandung. Dan air mata pun tak tertahankan sembari kubisikkan kata,
      “Dek, Saya akan berjanji akan membuat kamu dan Ibu bahagia di Dunia ini dan Membuat Ayah kita Bahagia di Alam sana." Kemudian aku dan Ibu diantar kerumah sakit oleh Pak Polisi. Suasana haru pun meliputi aku dan ibuku selama perjalanan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, aku dan Ibuku di antarkan ke ruang jenazah. Ibu ku dan aku langsung menangis meratapi sang Ayah yang sudah tak bisa lagi menghiasi kehidupan ini. Tak bisa lagi menasehati ku di kala kekhilafan ku melanda. Tak bisa lagi memotivasi ku kala aku terjatuh. Tak bisa lagi aku membuat Ayah tersenyum bangga kepadaku di bibir Pantai. Sesudah itu aku dan Ibuku meninggalkan ruang jenazah, saya menoleh kearah jasad Ayah ku lagi dan aku melihat tangan Ayahku menggenggam selembar kertas, lalu perawat menghampiriku, mengerti dengan sikap ku. Dia menyuruhku, untuk membuka genggaman tangan Ayah yang kuat, ternyata itu adalah selembar Raportku. Di balik halaman nilai raport ku tertulis, ” Jika ada yang menemukan raga ku di lautan, mohon jangan lepaskan Raport anakku yang ku genggam erat sampai ajal menjemputku”. Setelah membaca tulisan terakhir Ayahku, aku semakin termotivasi untuk menuruti nasehat Ayahku dan akan kuabadikan raport ini di dalam tas ku, untuk mengingat nya di kala ku terjatuh dalam kerasnya hidup mencapai kesuksesan yang di’impikan seorang Ayah kepada Anaknya. Raport yang memiliki kenangan indah ku bersama Ayahku. Raport yang membuat Ayahku tersenyum bangga terhadapku. Selembar Raport memiliki tanggung jawab besar diri sebagai siswa terhadap Ayah kita yang telah membanting tulang untuk membuat kita menjadi Orang yang Berguna bagi Keluarga bahkan Bangsa dan Negara.

Rabu, 04 September 2013

Aku percaya kamu kembali


Saat aku rela menunggumu untuk sekian lama pun karena aku tidak rela jika harus kehilangan dirimu. Dirimulah yang selalu mengajarkanku banyak cerita yang sebelumnya belum pernah kudengar sedikit pun. Tidak peduli orang lain bilang aku bodoh karna hanya aku yang merasakan cinta yang begitu besar ini

   Saat kamu pergi, kamu meninggalkan jarak diantara kita dan dengan jarak, seseorang dapat menimbang dan menakar. Dengan jarak, seseorang dapat saling merindu. Jarak antara aku dan kamu adalah bentangan kerinduan tempat kami membangun jembatan hati menuju pertemuan setelah lebih dari lima purnama tidak bersua. Perbedaan diantara aku dan kamu adalah warna pelangi yang indah yang menandakan aku dan kamu adalah satu.

   Aku membutuhkan kata untuk kurangkai agar kamu tau segala isi hatiku. Aku membutuhkan aroma wewangian untuk kukirim lewar angin, agar kamu dapat membaui aroma cintaku. Aku mendambakan sebuah gelombang yang dahsyat, agar aku dapat segera terdampar di pulaumu. Aku juga membutuhkan tanah untuk menanam benih cinta yang sempat kamu titipkan padaku sebelum kamu pergi. Dan aku harus merasakan kepedihan yang teramat sangat, karena aku membutuhkan tetes-tetes embun penderitaan untuk mengobati dahaga rindumu.

    Ketika cinta tidak harus saling memiliki adalah suatu pilihan pahit, sedangkan aku tetap menjaga perjanjian yang suci denganmu, maka aku akan mempercayai, akan datang suatu waktu dimana cinta itu akan kembali kepadaku... Aku percaya itu, pasti.

Minggu, 01 September 2013

Simple!

 
 Gua penganut hidup yang simple dan selalu memandang sesuatu dengan cara yang simple. Salah satu contoh ke-simple-an gua adalah saat gua lulus SMU. Ketika teman-teman lain berpikir keras dengan cita-cita setinggi atap rumah untuk masa depan yang cerah lagi aman sentosa plus bersemedi tiga belas hari untuk menentukan fakultas apa yang dipilih, gua cuma bermodalkan janji. Yah, janji pada diri sendiri kalau gua akan memilih fakultas yang sama dengan orang pertama yang gua temui digerbang Universitas Negeri, tempat gua mendaftar.

   Orang pertama yang gua temui adalah laki-laki separuh baya yang dengan simple gua berfikir, pastilah dia seorang dosen. Dengan langkah yakin dan mantap, gua menghampiri sang dosen yang tampak celingukan.

   "Mas tadi yang makan bubur ayam tapi nggak bayar, kan?" tandas lelaki itu begitu gua sudah ada didepannya.

   Gua depresi ringan menerima fitnahan yang kejam ini dan segera berlalu diiringi sumpah serapah dari si penjual bubur. Gua mulai merevisi janji gua: Bukan dengan orang pertama yang gua temui tapi dipersempit khusus untuk mahasiswa atau dosen saja. Alhasil, gua bertemu dengan mahasiswa fakultas ekonomi akuntansi pertama yang sedang meratapi nasibnya yang nyaris Drop Out dibawah pohon akasia!

   Akhirnya gua memilih fakultas Ekonomi Akuntansi untuk masa depan gua yang kabur dengan do'a khusuk semoga gua tidak senasib dengan mahasiswa yang menjadi inspirasi gua itu. Gua pun lulus masuk fakultas Ekonomi Akuntasi yang berdampak keluarnya mosi tidak percaya dari teman-teman gua yang nggak lulus. Dan dengan simple gua menjawab, "fakultas Akuntasi sepertinya cuma memilih cowok-cowok yang kece, jadi terimalah nasib kalian yang kurang kece." Dan gua disiram dengan seember air bekas cucian selusin celana dalam.

   Yah... ternyata memang menyenangkan bila kita menjalani hidup dengan simple dan tidak memandang sesuatu sebagai hal yang maha pelik. Tapi ternyata ke-simple-an gua pun menjadi bumerang bagi gua. Dan itu bermula ketika gua ketemu cewek cakep, teman satu kampus gua.

   Sebagai orang yang simple, gua langsung mengerti kalau gua sedang jatuh cinta dan gua tak mau bersulit-sulit mendiamkan rasa yang sedang berakrobat-ria. Gua nggak nakal mempersiapkan surat cinta yang maha dahsyat untuk membuat hati cewek klepek-klepek atau bersemedi satu bulan untuk menumbuhkan rasa percaya diri.

   "Gua mau nembak Anza," kata gua pada Alim. Gua memilih Alim bukan karena petuahnya yang sok bijak nyaris nyerempet bahaya alias ngelantur, tapi cuma Alim yang paling ngerti bila diputus cewek mengingat prestasinya sudah menembak dua puluh cewek dan ditolak dua puluh satu cewek. Cewek yang kedua puluh satu itu buru-buru nolak Alim setelah ada isu kalau Alim naksir dia. Alhasil pengalamannya itu membuat Alim kenal dan membuat mukanya yang sudah mirip badak semakin bermuka badak.

   "Anza?!" Alim melotot.

   "Iya, kenapa?" tanya gua ilfil melihat raut shock Alim. Gua tahu, Anza memang cakep lengkap dengan jilbabnya, bisa diramalkan kalau Anza kelak akan menjadi istri yang solehah, jujur, tidak boros, dam setia pada bangsa dan negara.

   "Anza itu target gua ke dua puluh dua," cetus Alim polos kayak anak kucing lagi nenen.

   Dengan simple gua menjawab, "Taubatlah, Lim! lu udah rekor, ditolak dua puluh satu cewek. Sekarang kasih kesempatan ke gua dong. Andai gua ditolak, ini prestasi gua yang pertama." Dan alim pun memberi kesempatan kepada gua dengan tidak rela.

   Dan gua pun nembak Anza dengan bermodalkan pemikiran yang simple dan dengan cara yang simple pula di kantin kampus yang sedang sepi dengan menu yang simple: dua gelas teh tawar dingin dan sepiring kecil gorengan tapi cukup memberikan nuansa romantis yang simple pula.

   "An, gua suka mata lo yang indah dan sehat. Mata kayak lo itu pasti bisa melihat keindahan kayak gua," kata gua tanpa bermaksud tebar pesona. Bila Anza nolak gua, itu berarti Anza tidak siap pacaran dengan cowok ganteng. Dan gua pun akan mencari cewek cakep lain yang tidak minder pacaran dengan cowok keren seperti gua.

   Anza menatap gua bengong seolah tidak percaya keberuntungan telah mendatanginya. Ternyata Anza memang bukan cewek minder dan memiliki sepasang mata yang memang belum rabun dan sangat sehat. Dia mampu melihat kesempurnaan wajah tampan gua dan hati gua yang tak retak sedikit pun.

   Singkat cerita, Anza menerima cinta gua dan jadilah Anza sebagai cewek gua yang sholehah. Alim yang mengetahui berita ini dari majalah Selebritis Kampus, hampir bunuh diri dengan terjun dari ranjangnya yang pesing.

   "An, hari sabtu, gua kerumah lo ya," kata gua setelah resmi seminggu pacaran. Ini kali pertama gua akan kerumahnya. Sungkem dengan calon mertua. Anza tersenyum manja dan gua bahagia, riang tak terkira.
Malam minggu yang akan menjadi sejarah bagi gua pun datang. Dengan berbekal motor butut pinjaman dari Alim, berangkatlah gua kerumah Anza. Anza sudah menunggu gua lengkap dengan seluruh keluarganya diteras rumah.

   "Ziz, kenalin, ini Papi, Mami, dan Diko, adik gua," Anza mengenalkan gua. Muka muka antusian plus curiga menyambut kedatangan gua.

   "Assalamualaikum Om, Tante," sapa gua "Hallo Diko.."

   "Walaikumsalam," sapa Mami dan Papi Anza yang terus menatap lekat-lekat ke gua.

   "Kok nggak bawa cokelat sih, pelit!?" cetus adik Anza yang masih SD itu

    "Hush, Diko, bikin malu saja!" tegur Papi Anza, "kak Aziz ga pelit kok cuman lupa aja, nanti juga nggak cuman bawa cokelat, tapi lengkap sama martabak telor!"

   Gua frustasi. Untung tangan Anza buru buru menarik lengan gua mendekati motor Alim yang ikut teronggok lemas tak berdaya menyaksikan peristiwa pilu itu.

   "Kita makan di kafe itu yuk," ajak Anza ketika kami udah sampai didepan sebuah kafe.

   Gua panik tapi berusaha berfikir simple. Tenang, di dompet gua masih ada uang jatah bulanan dari bokap gua. Gua selamat walau terus didera rasa cemas menatap Anza yang asyik memilih menu. Dan gua pun harus rela dengan sebotol air mineral dingin.

   "Dokter nyaranin gua diet, An," alasan gua, simple dan cukup membuat Anza percaya. Dan gua harus menahan kriuk-kriuk di perut gua yang belum makan dari sore tadi karena berkhayal akan ditawarin makan dirumah Anza, tapi kini harus sekuat tenaga mencegah liur gua yang berontak keluar karena melihat Anza menyantap sepiring kwetiau, semangkok sup asparagus kepiting, dan segelas es jeruk. Sedangkan gua pura pura menikmati sebotol air mineral dingin yang membuat perut gua makin kembung.

   "Ziz, jangan lupa pesenin mie pangsit untuk Papi dan Mami, ya. Sekalian juga untuk Om dan Tante gua yang akan nginep dirumah malam ini," kata Anza yang membuat perut gua tambah mules,"Kalau untuk Diko, nanti kita mampir ke supermarket sebentar, beli cokelat."

    Gua tersenyum manis dengan mulut terasa pahit. Gua elus dompet gua yang sebentar lagi akan kempes mendadak dengan rasa kasihan. Tapi apa cukup untuk uang di dompet ini? Dengan simple, gua merogoh kalkulator kecil yang selalu tersimpan di saku depan celana gua. Sebagai seorang mahasiswa Akuntansi, gua terlatih untuk berhitung yang simple apa lagi soal keuangan gua yang cenderung kurang cerah. Dan kalkulator adalah sebuah benda kecil yang simple untuk membantu gua berhitung tanpa harus berpikir panjang dan pusing menggunakan otak gua.

   Gua mulai berhitung sambil melirik harga makanan di daftar menu diatas meja. Sup Asparagus Kepiting 20.000, kwetiau 15.000, es jeruk 8.000 ditambah empat mie pangsit, dua batang coklat...

   "Elu ngapain sih, Ziz!"tiba-tiba Anza membentak dan melototin gua yang masih sibuk mencet-mencet kalkulator.

   "Ngitung makan..." ujar gua simple.

   "Ilfil gua sama lo!" tukas Anza dan sehelai serbet makan mendarat dengan mulus di muka gua. Anza berlari meninggalkan gua dengan muka shock. Dan gua? Dengan bengong mengeluarkan berlembar-lembar uang lima ribuan lusuh dengan pasrah.

   Setelah kejadian di kafe itu, Anza ogah ngobrol dengan gua lagi. Setiap gua sapa, dia pasti melengos. Alim yang senang, dan doi mulai berancang-ancang untuk siap mati ditolak Anza. Tapi ada satu hal yang gua pelajari dari hubungan cinta gua yang berumur seminggu ini. Ternyata... tidak selamanya hal-hal yang simple itu menyenangkan. Tapi adakalanya ke-simple-an itu membawa gua terpeleset bahkan terperosok. Seperti hubungan cinta gua dan Anza, seperti kalkulator yang menurut gua simple tapi membuat Anza depresi dan shock berat.

   Yah... pada akhirnya Anza mendepak gua karena hal yang ternyata simple!




Inspiration: Om benny dan beberapa manusia jenius