Selasa, 25 Juni 2013

Sukses dan Cinta

 Apakah sukses itu?

Sering dan banyak tertawa mendapatkan rasa hormat dari orang pandai
dan rasa kasih dari anak anak
meraih penghargaan kritikus yang jujur
dan tabah menghadapi pengkhianatan teman palsu

Menghargai keindahan, menemukan sifat baik dalam diri orang lain
membuat dunia lebih baik, entah dengan anak yang sehat, sepetak kebun
atau kondisi sosial yang lebih baik

Mengetahui bahwa seseorang telah hidup lebih mudah karena keberadaanmu
itulah arti kesuksesan

Sukses yang sesungguhnya itu terjatuh terlebih dahulu, 
sengsara terlebih dahulu dan sakit terlebih dahulu dan berakhir dengan pekerjaan yang diinginkan dan harapan yang sederhana

Ingatlah, orang sukses adalah orang yang selalu menyisihkan  sebagian dari hartanya untuk anak yatim dan orang orang kelaparan.

Orang berilmu itu bukan yang memiliki ilmu gaib dan kebal,
 tapi orang yang selalu sedekah, shalat, puasa, dzikir dan tawakal kepada Allah

Cinta?


Setiap manusia terlahir dengan istimewa, termasuk kamu, dan salah satu 
keistimewaan itu adalah HASRAT CINTA KASIH

Kalo kamu jadi ingin tau semua tentang dia sampe kedalam- dalamnya
itu tandanya kamu jatuh cinta

Dalam kondisi rindu berat, kamu bisa kehilangan rasio, 
enggak peduli apa-kah dia ada dirumah atau enggak,
bisa lihat sandal jepitnya di depan pintu aja kamu udah bahagia

Kita tak pernah kalah karena mencintai seseorang
tetapi kita selalu kalah karena tidak berterus terang

Salah satu tanda jatuh cinta adalah memiliki hasrat yang besar untuk memilikinya. Kalo dia benar benar cinta sama kamu , dia tidak akan menuntut banyak darimu, dia tidak akan membuatmu sengsara atau menderita, paling paling karena perbedaan watak dan itu adalah sesuatu yang wajar. Dia akan menerimamu baik dari kelebihanmu dan kekuranganmu

Hati-hatilah! Sex bukan cinta, walaupun tanpa sex cinta tak akan sempurna.

Jatuh cinta dapat mengubahmu, dari kurus menjadi gendut ataupun sebaliknya, dari pendiam menjadi cerewet, dari kaya menjadi miskin dan sebagainya. Cinta itu indah kalo kamu bisa membuatnya menjadi kisah yang sangat indah, tetapi cinta itu busuk kalo kamu membuatnya dengan penuh drama dan airmata, jadi semuanya tergantung kamu, bahagia itu mudah dan mendapatkan cinta juga mudah! tergantung kamu.




Jadi sukses sama cinta itu sama, sama sama butuh perjuangan dan tergantung pribadi seseorangnya untuk jadi lebih baik



Untuk kamu

Kupandangi wanita gadis dipinggir pantai itu, memberikan harapan dan kenangan yang tak hilang
Lagi, dia memandangku dan siap memberiku banyak kenangan dan cerita indah. Mengapa jiwaku mesti bergetar sedangkan musimpun manis kudengar, mungkin karna kulihat lagi lentik bulu matamu, bibirmu, dan rambutmu yang kau biarkan jatuh bergerai dikeningmu, makin mengajakku terpana dan akan kugoreskan tinta cinta. Aku akan tetap dalam pendirianku " Aku tak pernah kalah karena mencintai seseorang, aku selalu kalah karena tidak berterus terang."

Ya, cerita indah dari bibirnya yang merah merekah, dari tata nada yang mengalun merdu ditelingaku. Kau memberiku janji janji yang sangat manis dan cerita yang aku pikir akan indah seperti bunga mawar yang merah merekah, bunga mawar yang tak kuperdulikan durinya.

Tetapi, aku malah terkena durinya, duri tajam dari bunga mawar yang kupikir indah itu.
Dia melukai perlahan, secara perlahan tapi pasti, saat kunikmati indahnya malam dengan bintang bintang yang elok, kau malah memberikanku bulan yang kelabu, yang menutupi harapan, semua HARAPAN.

Kupikir kaulah yang terindah untukku, untuk hati yang kosong sehabis ditinggalkan pemiliknya tanpa sisa, hati yang baru saja barang barangnya diangkut pergi oleh seseorang yang singgah sejak lama dan memaksa untuk pergi dan ternyata kamu mengikuti jejaknya, ikut pergi sebelum kau miliki seutuhnya diriku, sebelum kau ubah status kesendirianku, ikut bergegas menginap dihati oranglain yang belum tentu lebih baik dariku, yang belum tentu indah dariku, dan setelah kusadari kubukan yang terbaik yang ada dihatimu tak dapat kutampikan ternyata dirinyalah yang mengerti kamu, bukanlah diriku.

Aku tau kau diciptakan bukanlah untukku tapi aku tak mau perduli, sebab cinta tak mesti bersatu dan biarlah kucumbui bayangmu serta kusantarkan harapanku.

Memang pedih bila kuingat lagi janji yang pernah kita ucapkan dulu, ternyata kini kau ubah semuanya, tak mengerti aku. Bila memang cinta tak berbalas, bila memang harus kunikmati cinta hanya sebatas mimpi, biarkanlah kasih indah tak lekang walau semua ini hanya sebatas mimpi. Aku tak akan pernah melupakan hari pertama kali aku melihat "impian berjalan" ( kamu )

Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu, kan kujadikan engkau kenangan yang terindah dalam hidupku. Namun, tak kan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupmu yang telah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah.






Sabtu, 15 Juni 2013

Tanah Merah


Ketika ia bersandar pada pagar kapal yang akan membawanya pergi dari Tanah Merah, seluruh peristiwa yang telah dialaminya hampir setahun sebelumnya bagai berputar kembali di pelupuk matanya. Hidupnya sendiri adalah rangkaian petualangan demi petualangan yang tak berkesudahan. Semula ia adalah seorang pahlawan untuk negerinya, negeri Belanda yang telah menguasai bumi Hindia Belanda selama ratusan tahun. Semua orang yang tahu atau pernah mendengar tentang peristiwa Banten yang menggegerkan itu sudah barang tentu telah mendengar keharuman namanya.
Oleh tindakan kepahlawanan itu Pemerintah Hindia Belanda telah menganugerahkan sebuah bintang kehormatan kepadanya. Orang-orang mengelu-elukannya. Ia mendapatkan undangan pesta dari para pejabat militer Batavia dan orang-orang yang ingin mendengarkan kisah pertempuran yang telah ia alami, bunyi letusan senapan dan jerit mengerikan ketika tubuh meregang nyawa. Sungguh, memabukkan.
Beberapa bulan setelah ia berhasil menumpas pemberontakan kaum merah di Banten, Pemerintah Batavia menunjuknya sebagai komandan ekspedisi yang pertama-tama untuk masuk ke Digul dan mempersiapkan kamp pembuangan bagi kaum interniran yang telah memenuhi penjara-penjara di Jawa dan Sumatera.
“Apakah Gubernur Jenderal sudah gila? Digul adalah daerah terpencil, hutan-hutan lebat yang belum dijamah kecuali oleh penduduk rimba setempat dan para petualang Tionghoa. Aku mendengar dari orang-orang yang melakukan ekspedisi ke sana untuk mencari emas bahwa Digul adalah belantara yang dipenuhi para pengayau. Bagaimana kaum interniran bisa hidup di sana?” tanyanya kepada Letnan Drejer, opsir yang juga mendapatkan perintah untuk menemaninya masuk belantara Digul.
“Tampaknya tuan Gubernur Jenderal de Graeff ingin meniru bangsa Rusia. Bukankah di Rusia terdapat pembuangan yang terkenal di seluruh dunia? Siapa tak mengenal Siberia, neraka bagi siapa pun warga Rusia yang berontak atau menjadi bajingan!” ujar Letnan Drejer sambil tersenyum kecut.
“Kita bukan bangsa Rusia dan Siberia lain dengan Digul, Letnan. Digul hutan lebat. Apa yang bisa diharapkan dari daerah seterpencil itu? Kalau kita membuka hutannya, masalah mengerikan lain telah menunggu: malaria! Bukankah itu sama saja dengan mengirimkan kaum interniran itu ke lembah kematian?”
“Saya tak takut dengan malaria, Kapten. Tapi tinggal di hutan lebat semacam Digul sama saja dengan menyerahkan kepala kita kepada para pengayau atau para kanibal hitam di sana. Itulah yang saya takutkan,” ujar Letnan Drejer dengan kepala bergidik.
“Hehm, benar. Dan kita, kaum terhormat yang baru saja mendapatkan bintang kehormatan dari tindakan militer, harus mengotorkan tangan dengan tindakan memalukan. Sungguh keterlaluan orang-orang Batavia!”
“Yang lebih mengherankan, bukankah Gubernur Jenderal de Graeff itu terkenal berbudi baik, Kapten? Bagaimana ia bisa membuat keputusan-keputusan yang mengerikan seperti membuka kamp pembuangan?” ujar Letnan Drejer tak mengerti.
“Apalah artinya seorang gubernur jenderal berbudi baik bila sistemnya telah diracuni oleh para pejabat berhati kotor? Merekalah yang tak ingin kedudukannya terancam dengan ulah para pemberontak yang ingin menjatuhkan kekuasaan. Dan, untuk menangkal ancaman tersebut, tindakan kotor pun buat mereka tak apa-apa dan tak ada salahnya dilakukan.”
Letnan Drejer mengangkat bahu. Dipandangnya punggung Kapten Becking yang jangkung itu. Rasa hormatnya yang tinggi tak pernah lenyap terhadap lelaki ksatria yang beranjak tua ini. Di luar dinas militernya, opsir berambut putih itu sungguh terpelajar. Satu minggu sebelumnya Kapten Becking telah meminta bawahannya untuk mencari segala pengetahuan yang ada hubungannya dengan Digul dan bumi hitam di ujung timur Hindia itu. Sementara para prajurit dan opsir bawahannya membual dan membayangkan petualangan di tanah mereka yang akan mereka lakukan, ia justru tenggelam dengan buku-buku dan tumpukan laporan tentang Digul dan wilayah New Guinea secara umum. Ia gemar sekali membicarakan suku-suku pedalaman yang tinggal di hutan belantara itu dan di sepanjang Sungai Digul, kebaikan-kebaikan mereka dan kesukaan mereka dalam mengayau. Tak jarang ia mengingatkan Letnan Drejer akan kebuasan alam tempat baru itu dan berujar ia akan menundukkannya secepat mungkin.
Satu minggu sebelum bulan Januari 1927 berakhir kapalnya yang membawa 120 serdadu dan 60 kuli paksa dengan kaki dirantai memasuki Sungai Digul dan membuang sauhnya pada jarak ratusan kilometer dari pantai. Hujan tipis tak menghalanginya untuk keluar dari kapal, memandang ke arah hutan lebat maha luas dan tampak buas dalam bayangannya. Dari tabir tipis gerimis ia masih bisa menangkap keluasan hijau yang terbentang di depan matanya, daerah sunyi yang oleh Gubernur Jenderal de Graeff telah dipilih sebagai kamp pembuangan kaum interniran merah yang memberontak itu. Tubuhnya yang jangkung dan rambutnya yang memutih bergoyang-goyang oleh kapal dan angin yang bertiup cukup keras. Ia menggelengkan kepala dan menarik napas dalam-dalam.
“Di sinikah tahanan politik itu disembunyikan dari masyarakatnya, ataukah justru dikuburkan untuk selama-lamanya?”
Lama ia berdiri di pagar kapal, mengamati hutan belantara dan buaya-buaya yang berjemur dengan moncong terkatup di pinggir sungai. Ia membayangkan suku-suku pedalaman yang nanti akan terganggu oleh pekerjaan barunya. Sayang ia tak bisa mundur lagi. Dengan seluruh perasaan bersalah mengeram di dalam dadanya, ia menekan hasrat kemanusiaannya yang terus menggemakan pertanyaan demi pertanyaan. Ia menggenggam bintang kehormatan yang tersemat di dadanya dengan perasaan terhina dan masuk kembali ke kapal menemui Letnan Drejer dan segenap prajurit bawahannya.
Setelah berunding beberapa saat, mereka menurunkan seluruh keperluan pembukaan hutan dan perbekalan hidup mereka untuk masa tiga bulan. Kecuali pakaian dan perlengkapan anak buahnya, terdapat alat-alat duduk dan tidur, barang pecah belah, alat pertanian dan persediaan benih, lalu kaleng minyak tanah yang isinya tidak lain bahan-bahan makanan. Para kuli paksa dan sebagian besar serdadu membuka hutan dengan model setengah lingkaran terlebih dahulu sebagai tempat untuk mendirikan kemah dan tenda mereka. Sementara sebagian kecil serdadu menjaga bahan persediaan makanan dan segala barang perlengkapan yang telah diturunkan dari kapal.
Ketika kegelapan menyelimuti mereka, di tengah-tengah tenda dan kemah baru diletakkan lampu stormking. Kapten Backing dan seluruh pengikutnya bersiap-siap dengan serbuan pertama-tama manusia hutan Digul. Pada tengah malam, ketika keletihan telah merayapi tubuh mereka, tiba-tiba terdengar jeritan panjang yang datang dari berbagai jurusan sekalipun tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan dirinya di bawah penerangan lampu. Beberapa kuli paksa gemetaran dan membaca doa keras-keras, mengira suara-suara jeritan dari balik hutan sebagai kemarahan hantu-hantu hutan yang pepohonannya telah mereka babat. Namun, Kapten Becking dan sebagian besar serdadu yang dibawanya yakin itu adalah suara-suara para penghuni hutan yang telah menyaksikan aktivitas mereka sejak pagi. Setelah ditunggu-tunggu dan mereka tak juga muncul atau menyerang, seluruh serdadu dan kuli paksa menarik napas lega.
“Aku yakin mereka tidak buas, sebab kalau mereka buas sudah sejak semalam mereka akan menyerang kita,” ujar Kapten Becking keesokan harinya.
“Aku harap juga demikian. Kalau mereka buas, pekerjaan kita bakalan lebih payah lagi,” letnan Drejer menimpali dengan kecut.
“Benar. Bagaimanapun tugas berat ini harus cepat selesai, paling tidak sebelum satu bulan. Di samping tenda-tenda, kita harus mempersiapkan dua gudang untuk menyimpan seluruh barang-barang yang telah kita bawa, sebuah rumah sakit, satu stasiun radio dan sebuah kantor pos. Itu belum termasuk menyiapkan lahan-lahan permukiman bagi kaum interniran dan lahan pertanian mereka kelak.”
“Kantor pos? Sungguh aneh, di sebuah hutan belantara seperti Digul bagaimana mungkin ada kantor pos? Sungguh konyol gagasan orang-orang Batavia itu,” ujar Letnan Drejer mengejek.
“Sekarang mungkin kita tak membutuhkannya. Namun, nanti, ketika seluruh kaum interniran itu diangkut ke sini, mereka akan membutuhkannya. Apakah mereka akan dibiarkan betul-betul merana tanpa berkirim kabar pada saudaranya di tempat lain. Mereka orang beradab dan harus tetap berhubungan dengan peradaban.”
“Mereka dibuang di sini saja bukan tindakan beradab, Kapten. Jadi sia-sia saja mereka mencari hubungan dengan orang-orang beradab.”
“Itulah yang sebenarnya melukai kehormatanku, Letnan. Aku lebih terhormat meregang nyawa dalam sebuah pertempuran daripada membuat tempat penyiksaan semacam ini. Tapi kita mengabdi kepada Gubernur Jenderal, bukan kepada nurani kita,” ujar Kapten Becking sambil menguap. Tak lama kemudian ia jatuh tertidur.
Begitu terang tanah telah sempurna, mereka kembali bekerja membabat hutan dan mempersiapkan tanah lapang untuk keperluan tempat tinggal dan segala bangunan yang akan diperlukan nanti. Serdadu yang berjaga dan ingin melepas kejenuhan menyusuri sungai dan berburu buaya.
Pada hari kelima, ketika mereka tengah siap memulai pekerjaan setelah istirahat tengah hari, mereka dikagetkan oleh suara jeritan seperti empat malam sebelumnya. Dari berbagai arah, dengan hanya berpakaian bulu burung cenderawasih dan membawa sebuah pepaya di tangan, manusia-manusia hitam bertubuh atletis itu menampakkan diri di hadapan para serdadu dan kuli paksa, mencoba menarik perhatian mereka lalu mendekat selangkah demi selangkah dengan sangat hati-hati. Kapten Becking, yang telah melakukan studi lama tentang daerah sekitar hutan ini beserta kebiasaan para penduduknya mendekati mereka dengan dada berdebar-debar. Busur, panah dan lembing mereka siap bergerak. Namun, buah pepaya yang ada di tangan para manusia hitam itu yang membuat Kapten Becking yakin mereka tak akan membuat keonaran.
Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan tembakau dari saku celanya dan dengan bahasa isyarat dari tangan dan wajahnya ia mengajak mereka menukar tembakau terebut dengan pepaya yang mereka bawa. Begitu mereka menerima tembakau dan Kapten Becking menerima pepaya, orang-orang hitam itu bersorak melegakan seluruh pendatang baru itu. Kapten Becking meminta kepada Letnan Drejer untuk mengambilkan sekantong garam dan barang-barang perhiasan kecil yang ada di gudang. Ketika benda-benda itu diberikan kepada pemimpin penghuni hutan, mereka membalasnya dengan memberikan bulu burung cenderawasih, burung-burung yang cantik, dan binatang-binatang buruan yang berhasil mereka tangkap dengan sumpit. Namun, yang paling membuat geli para pendatang baru itu adalah sikap para penghuni hutan itu kepada gramofon yang mereka bawa. Benda yang piringan hitamnya sedang berputar itu diangkat, diselidiki, dan dilihat-lihat dari segala sudut dengan penuh keheranan.
“Mungkin mereka heran bagaimana suara manusia bisa muncul dari gramofon itu, Kapten,” kata anak buahnya sambil tersenyum dan tertawa terpingkal-pingkal.
“Tentu. Mereka mencari bagaimana benda sekecil itu menyembunyikan manusia,” kata Letnan Drejer sambil tersenyum lebar.
Setelah beberapa minggu segala persiapan awal penyambutan kedatangan para internitan yang pertama-tama di bekas hutan Digul itu selesai, secara bergelombang datanglah kaum merah yang telah gagal memberontak itu, dipisahkan dari bangsanya sendiri dan dikubur di tengah belantara untuk selamanya. Pada pendatang baru ia memperkenalkannya sebagai Tanah Merah.
Siapa sangka jika pekerjaan meletihkan dan memalukan itu kemudian memaksanya berhenti dari dinas militer? Semuanya berawal ketika ia mengizinkan seorang wartawan berkebangsaan Denmark masuk ke kamp interniran dan melihat dari dekat segala hasil kerjanya. Kabarnya, wartawan itu mengambil gambar para interniran selama di dalam kapal dari Surabaya hingga sampai di Digul. Komandan kapal yang tak ingin dosa-dosa para pejabat Batavia diketahui secara luas oleh seluruh dunia merampas kamera dan menghancurkan foto-foto yang telah dibuatnya selama di kapal. Alangkah murkanya ia ketika Kapten Becking justru mengizinkan wartawan itu masuk ke kamp pembuangan.
Ia juga tahu para pejabat Belanda di Merauke tak menyukai keberhasilannya membangun kamp pembuangan itu. Mereka membuat rencana busuk untuk menyingkirkanya. Suatu kali Letnan Drejer memberitahu bahwa Opsir Mon Joulah yang mengatur semua itu. “Ia sangat gila kekuasaan, Kapten,” ujar Letnan Drejer muak.
Foto dari wartawan Denmark itu rupanya telah melukai kehormatan para pejabat Batavia. Mereka makin menyudutkannya atas tindakan ceroboh memasukkan wartawan ke kamp pembuangan sehingga kabar tentang kamp pembuangan itu meluas ke seluruh dunia. Saat itulah ia memutuskan untuk mengirimkan kawat ke Batavia dan mengundurkan diri dari dinas militer!
Tak akan terlupakan hari keberangkatannya meninggalkan Digul. Ia berdiri di pagar kapal api, bukan lagi memandang hutan yang hijau sunyi, namun permukiman yang dibangunnya belum setahun yang lalu sembari merenungkan nasibnya. Hujan tipis membasahi baju dan rambutnya yang putih.