Minggu, 01 September 2013

Simple!

 
 Gua penganut hidup yang simple dan selalu memandang sesuatu dengan cara yang simple. Salah satu contoh ke-simple-an gua adalah saat gua lulus SMU. Ketika teman-teman lain berpikir keras dengan cita-cita setinggi atap rumah untuk masa depan yang cerah lagi aman sentosa plus bersemedi tiga belas hari untuk menentukan fakultas apa yang dipilih, gua cuma bermodalkan janji. Yah, janji pada diri sendiri kalau gua akan memilih fakultas yang sama dengan orang pertama yang gua temui digerbang Universitas Negeri, tempat gua mendaftar.

   Orang pertama yang gua temui adalah laki-laki separuh baya yang dengan simple gua berfikir, pastilah dia seorang dosen. Dengan langkah yakin dan mantap, gua menghampiri sang dosen yang tampak celingukan.

   "Mas tadi yang makan bubur ayam tapi nggak bayar, kan?" tandas lelaki itu begitu gua sudah ada didepannya.

   Gua depresi ringan menerima fitnahan yang kejam ini dan segera berlalu diiringi sumpah serapah dari si penjual bubur. Gua mulai merevisi janji gua: Bukan dengan orang pertama yang gua temui tapi dipersempit khusus untuk mahasiswa atau dosen saja. Alhasil, gua bertemu dengan mahasiswa fakultas ekonomi akuntansi pertama yang sedang meratapi nasibnya yang nyaris Drop Out dibawah pohon akasia!

   Akhirnya gua memilih fakultas Ekonomi Akuntansi untuk masa depan gua yang kabur dengan do'a khusuk semoga gua tidak senasib dengan mahasiswa yang menjadi inspirasi gua itu. Gua pun lulus masuk fakultas Ekonomi Akuntasi yang berdampak keluarnya mosi tidak percaya dari teman-teman gua yang nggak lulus. Dan dengan simple gua menjawab, "fakultas Akuntasi sepertinya cuma memilih cowok-cowok yang kece, jadi terimalah nasib kalian yang kurang kece." Dan gua disiram dengan seember air bekas cucian selusin celana dalam.

   Yah... ternyata memang menyenangkan bila kita menjalani hidup dengan simple dan tidak memandang sesuatu sebagai hal yang maha pelik. Tapi ternyata ke-simple-an gua pun menjadi bumerang bagi gua. Dan itu bermula ketika gua ketemu cewek cakep, teman satu kampus gua.

   Sebagai orang yang simple, gua langsung mengerti kalau gua sedang jatuh cinta dan gua tak mau bersulit-sulit mendiamkan rasa yang sedang berakrobat-ria. Gua nggak nakal mempersiapkan surat cinta yang maha dahsyat untuk membuat hati cewek klepek-klepek atau bersemedi satu bulan untuk menumbuhkan rasa percaya diri.

   "Gua mau nembak Anza," kata gua pada Alim. Gua memilih Alim bukan karena petuahnya yang sok bijak nyaris nyerempet bahaya alias ngelantur, tapi cuma Alim yang paling ngerti bila diputus cewek mengingat prestasinya sudah menembak dua puluh cewek dan ditolak dua puluh satu cewek. Cewek yang kedua puluh satu itu buru-buru nolak Alim setelah ada isu kalau Alim naksir dia. Alhasil pengalamannya itu membuat Alim kenal dan membuat mukanya yang sudah mirip badak semakin bermuka badak.

   "Anza?!" Alim melotot.

   "Iya, kenapa?" tanya gua ilfil melihat raut shock Alim. Gua tahu, Anza memang cakep lengkap dengan jilbabnya, bisa diramalkan kalau Anza kelak akan menjadi istri yang solehah, jujur, tidak boros, dam setia pada bangsa dan negara.

   "Anza itu target gua ke dua puluh dua," cetus Alim polos kayak anak kucing lagi nenen.

   Dengan simple gua menjawab, "Taubatlah, Lim! lu udah rekor, ditolak dua puluh satu cewek. Sekarang kasih kesempatan ke gua dong. Andai gua ditolak, ini prestasi gua yang pertama." Dan alim pun memberi kesempatan kepada gua dengan tidak rela.

   Dan gua pun nembak Anza dengan bermodalkan pemikiran yang simple dan dengan cara yang simple pula di kantin kampus yang sedang sepi dengan menu yang simple: dua gelas teh tawar dingin dan sepiring kecil gorengan tapi cukup memberikan nuansa romantis yang simple pula.

   "An, gua suka mata lo yang indah dan sehat. Mata kayak lo itu pasti bisa melihat keindahan kayak gua," kata gua tanpa bermaksud tebar pesona. Bila Anza nolak gua, itu berarti Anza tidak siap pacaran dengan cowok ganteng. Dan gua pun akan mencari cewek cakep lain yang tidak minder pacaran dengan cowok keren seperti gua.

   Anza menatap gua bengong seolah tidak percaya keberuntungan telah mendatanginya. Ternyata Anza memang bukan cewek minder dan memiliki sepasang mata yang memang belum rabun dan sangat sehat. Dia mampu melihat kesempurnaan wajah tampan gua dan hati gua yang tak retak sedikit pun.

   Singkat cerita, Anza menerima cinta gua dan jadilah Anza sebagai cewek gua yang sholehah. Alim yang mengetahui berita ini dari majalah Selebritis Kampus, hampir bunuh diri dengan terjun dari ranjangnya yang pesing.

   "An, hari sabtu, gua kerumah lo ya," kata gua setelah resmi seminggu pacaran. Ini kali pertama gua akan kerumahnya. Sungkem dengan calon mertua. Anza tersenyum manja dan gua bahagia, riang tak terkira.
Malam minggu yang akan menjadi sejarah bagi gua pun datang. Dengan berbekal motor butut pinjaman dari Alim, berangkatlah gua kerumah Anza. Anza sudah menunggu gua lengkap dengan seluruh keluarganya diteras rumah.

   "Ziz, kenalin, ini Papi, Mami, dan Diko, adik gua," Anza mengenalkan gua. Muka muka antusian plus curiga menyambut kedatangan gua.

   "Assalamualaikum Om, Tante," sapa gua "Hallo Diko.."

   "Walaikumsalam," sapa Mami dan Papi Anza yang terus menatap lekat-lekat ke gua.

   "Kok nggak bawa cokelat sih, pelit!?" cetus adik Anza yang masih SD itu

    "Hush, Diko, bikin malu saja!" tegur Papi Anza, "kak Aziz ga pelit kok cuman lupa aja, nanti juga nggak cuman bawa cokelat, tapi lengkap sama martabak telor!"

   Gua frustasi. Untung tangan Anza buru buru menarik lengan gua mendekati motor Alim yang ikut teronggok lemas tak berdaya menyaksikan peristiwa pilu itu.

   "Kita makan di kafe itu yuk," ajak Anza ketika kami udah sampai didepan sebuah kafe.

   Gua panik tapi berusaha berfikir simple. Tenang, di dompet gua masih ada uang jatah bulanan dari bokap gua. Gua selamat walau terus didera rasa cemas menatap Anza yang asyik memilih menu. Dan gua pun harus rela dengan sebotol air mineral dingin.

   "Dokter nyaranin gua diet, An," alasan gua, simple dan cukup membuat Anza percaya. Dan gua harus menahan kriuk-kriuk di perut gua yang belum makan dari sore tadi karena berkhayal akan ditawarin makan dirumah Anza, tapi kini harus sekuat tenaga mencegah liur gua yang berontak keluar karena melihat Anza menyantap sepiring kwetiau, semangkok sup asparagus kepiting, dan segelas es jeruk. Sedangkan gua pura pura menikmati sebotol air mineral dingin yang membuat perut gua makin kembung.

   "Ziz, jangan lupa pesenin mie pangsit untuk Papi dan Mami, ya. Sekalian juga untuk Om dan Tante gua yang akan nginep dirumah malam ini," kata Anza yang membuat perut gua tambah mules,"Kalau untuk Diko, nanti kita mampir ke supermarket sebentar, beli cokelat."

    Gua tersenyum manis dengan mulut terasa pahit. Gua elus dompet gua yang sebentar lagi akan kempes mendadak dengan rasa kasihan. Tapi apa cukup untuk uang di dompet ini? Dengan simple, gua merogoh kalkulator kecil yang selalu tersimpan di saku depan celana gua. Sebagai seorang mahasiswa Akuntansi, gua terlatih untuk berhitung yang simple apa lagi soal keuangan gua yang cenderung kurang cerah. Dan kalkulator adalah sebuah benda kecil yang simple untuk membantu gua berhitung tanpa harus berpikir panjang dan pusing menggunakan otak gua.

   Gua mulai berhitung sambil melirik harga makanan di daftar menu diatas meja. Sup Asparagus Kepiting 20.000, kwetiau 15.000, es jeruk 8.000 ditambah empat mie pangsit, dua batang coklat...

   "Elu ngapain sih, Ziz!"tiba-tiba Anza membentak dan melototin gua yang masih sibuk mencet-mencet kalkulator.

   "Ngitung makan..." ujar gua simple.

   "Ilfil gua sama lo!" tukas Anza dan sehelai serbet makan mendarat dengan mulus di muka gua. Anza berlari meninggalkan gua dengan muka shock. Dan gua? Dengan bengong mengeluarkan berlembar-lembar uang lima ribuan lusuh dengan pasrah.

   Setelah kejadian di kafe itu, Anza ogah ngobrol dengan gua lagi. Setiap gua sapa, dia pasti melengos. Alim yang senang, dan doi mulai berancang-ancang untuk siap mati ditolak Anza. Tapi ada satu hal yang gua pelajari dari hubungan cinta gua yang berumur seminggu ini. Ternyata... tidak selamanya hal-hal yang simple itu menyenangkan. Tapi adakalanya ke-simple-an itu membawa gua terpeleset bahkan terperosok. Seperti hubungan cinta gua dan Anza, seperti kalkulator yang menurut gua simple tapi membuat Anza depresi dan shock berat.

   Yah... pada akhirnya Anza mendepak gua karena hal yang ternyata simple!




Inspiration: Om benny dan beberapa manusia jenius

Tidak ada komentar:

Posting Komentar