Minggu, 08 September 2013

Raport untuk Ayah



       Perlahan matahari mulai terbenam ditelan luasnya lautan di pinggir pantai. Mengisyaratkan harmoni malam akan datang bersama kesejukan angin darat. Para nelayan sibuk mempersiapkan perlengkapan melaut untuk mencari nafkah di kala angin darat menyapa dengan mengajak nelayan bergegas memanfaatkan kekayaan laut nusantara ini . Mengingatkan kita sebuah julukan negara Maritim, julukan yang pernah diberikan oleh orang asing kepada nusantara ini. Sebuah harmoni di malam hari, kemesraan para nelayan dengan alam telah tersaji sejauh mata memandang dari menara tebing pantai. Aku pun turun dari menara, meyusuri licinnya hutan pantai ke arah bawah dengan hati-hati sambil berlari. Aku tidak sabar ingin bertemu ayahku sebelum beliau melaut. Ku genggam erat selembar rapot nilai-nilai SMK Pelayaran ku yang memuaskan. Walaupun ku terjatuh karena licinnya jalan yang kutapaki, walaupun kaki terjegal oleh batang pohon yang telah mati karena gelap, tidak terlintas rasa sakit di dalam benakku, hanya ada keinginan kuat untuk membuat Ayahku tersenyum bangga. Aku tak bisa menunggu hari esok memberi tahu kan nilai rapotku, aku ingin segera memberitaukannya kepada Ayahku. Akhirnya Aku sampai di bibir pantai, menghampiri ayahku yang sedang mengangkat kain jala ke dalam perahu. “Ayah !!! Teriak sang anak yang masih mengenakan seragam sekolahnya. 

    “Duh nak, ada apa ? ini udah malam, entar ibumu prihatin dirumah dengan keadaan mu, apalagi ibumu sedang mengandung adekmu “. Tanya sang Ayah dengan wajah penuh heran dengan nada kesal. 

   “Maap yah, aku kesini untuk memperlihatkan nilai raport ku “. Sang anak menjawab dengan nada pura-pura takut serta wajah yang kurang enak, untuk menipu sang ayah agar terlihat surprise. 

    ” Pasti nilai raport mu banyak merahnya nih nak kayak sebelum-sebelumnya”. Sambil menarik dengan pelan selembar raport dari tangan sang anak. Sang ayah lalu tersenyum dengan penuh kebanggaan terpancar dari wajah lumayan keriput beliau. 

   ” Nak, ayah senang dan bangga punya anak kayak kamu”. Dari 8 mata pelajaran yang tertera di selembar raport ku, semua nilai di atas 80. Kemudian Ayah melemparkan sebuah pertanyaan kepadaku. ” Nak ini hasil yang jujur apa ini hasil nyontek waktu ulangan ?"
  “Enggak nyontek Ayah, ini hasil yang jujur, jerih payah ku sendiri. Semenjak Ayah menasehati ku di rumah saat pembagian raport semester kemarin”. Dengan penuh keyakinan, sang anak menjawab. Ayah pun tersenyum bangga akan perannya. Kewajiban seorang Ayah dalam berperan untuk mendidik anak, menjadi motivator sekaligus penasehat sang anak. “Nak, Ayah melaut dulu ya, Ayah sudah ditunggu teman-teman ayah untuk melaut “. 
 
     ” Insya Allah kalo cuacanya bagus, Ayah pulang jam 12 siang besok”. 

    “Langsung pulang ya nak, kasihan Ibumu nungguin kamu tuh nak”. Ujar sang Ayah sembari bergegas menuju perahu dan membawa selembar raport untuk diperlihatkan kepada teman-temannya. 

     " Okeeee Ayaaaahhh ” !! Aku langsung pulang “!! Sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Akhirnya aku meninggal kan bibir pantai untuk menuju rumah ku dengan merasa bahagia dapat membuat Ayahku bangga kepadaku. Karena nasihat Sang ayah pada saat pembagian raport semester kemarin. Teringat kembali Nasihat manis itu dan jawaban nakal dari mulut labilku . 

      ” Nak, kenapa nilai raport mu jelek ?" Tanya Sang Ayah. 
    
     “Ah malas aku belajar pak, gak ada untungnya belajar”. Sekolah juga gak bikin kita sejahtera kok, malah Ayah sering kekurangan uang untuk menyekolahkan ku”. “Mendingan aku ikut melaut sama Ayah di laut”. Jawab sang anak dengan penuh kekesalan.

     Sambil mengelus dada, Sang Ayah membalas jawabanku. “Nak, Jadilah orang yang luar biasa! ya, Ayah mengerti kepedulianmu terhadap Ayah yang membanting tulang untuk menyekolahkanmu, kadang ayah tidur 3 jam untuk bekerja secara halal demi kamu nak”! Ayah ingin kamu sebagai anak laki-laki satu-satunya, lebih dari seorang Ayah mu sendiri ! Ayah mu hanyalah seorang nelayan nak, jangan lah ikutin jejak Ayah mu ini”. “ Ayah bilang ini itu buat kamu nak! buat hidup kamu! tidak ada kan kamu belajar pintarnya buat ayah, kamu olahraga sehatnya buat ayah, tidak ada kan! Jika kamu sukses pun ingat kata ayah ini. Belum tentu ayah minta sepeser pun dari kamu! tapi yang namanya kebanggaan lah yang membuat Ayah selalu memikirkan pendidikan mu”. Pada saat mendengar nasehat ayahku sendiri, aku pun meneteskan air mata dan langsung kupeluk erat-erat dan sekuat mungkin seiring derasnya air mata ku yang mengalir dari mataku dan mengaliri pipi ku. Dan Ayahku, juga memelukku seerat mungkin dan tangannya mengelus-elus bagian belakang kepalaku. Tambah sedih aku merasakan tangan Ayah yang mengelus-elusku, seakan-akan aku lupa aku sudah duduk di bangku SMK , serasa kembali menjadi anak SD lagi. Kemanjaan ku terulang lagi pada saat aku memeluknya. Akhirnya aku pun sampai dirumah, sembari mengingat kejadian itu. Kenangan yang tak terlupakan dengan ayahku. 
 
      “Assalamualaikum ibu” .. Sambil mengetuk pintu rumah. 

     “Wa’alaikum salam”. jawab sang Ibu sambil membukakan pintu dan berkata. “Dari mana aja kamu nak, ibu khawatir ma kamu, kamu gak kenapa-napa kan” ? tanya sang ibu dengan penuh rasa perhatian. 
  
    “Gak papa bu, tadi aku nyamperin ayah, ngasih raport ke ayah”. “Dan Ayah bahagia banget bu tadi liat raport ku, sampai-sampai raportnya di bawa juga bapak melaut. Jawab sang anak sambil tersenyum. Ibu pun juga ikut merasa bahagia kepadaku. Akhirnya ibuku yang sedang mengandung calon saudara ku satu-satunya, memasakkan aku makan malam dan setelah itu aku makan malam bersama ibuku dirumah yang sederhana ini. Ternyata Malam itu adalah Malam terakhir aku melihat Senyuman Kebanggan terakhir Sang Ayah Kepadaku. Enam hari sudah berlalu, Ayahku tidak pulang-pulang. Rasa kekhawatiran sangat lah menggerogoti batin ku dan ibu ku . Bagaimana keadaan Ayahku ini, pertanyaan itu yang selalu menghantui di kala menunggu sang Ayah pulang, rasa gelisah pun memuncak. Hanya doa yang ku panjatkan setelah ku shalat. 

      Akhirnya keesokan harinya, ada seorang petugas kepolisian mendatangi rumah ku, aku bisa menebak kedatangan polisi itu. “Permisi bu, bener nih rumahnya Bapak Obi ? tanya polisi dengan nada sopan. 

     “Bener pak, kenapa pak - kenapa pak ? jawab sang Ibu dengan tangisan sambil melontarkan pertanyaan. Ibuku sudah bisa menebak berita apa yang disampaikan Pak Polisi tersebut. Saya pun memeluk ibuku dan mencium perut Ibuku yang sedang mengandung. Dan air mata pun tak tertahankan sembari kubisikkan kata,
      “Dek, Saya akan berjanji akan membuat kamu dan Ibu bahagia di Dunia ini dan Membuat Ayah kita Bahagia di Alam sana." Kemudian aku dan Ibu diantar kerumah sakit oleh Pak Polisi. Suasana haru pun meliputi aku dan ibuku selama perjalanan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, aku dan Ibuku di antarkan ke ruang jenazah. Ibu ku dan aku langsung menangis meratapi sang Ayah yang sudah tak bisa lagi menghiasi kehidupan ini. Tak bisa lagi menasehati ku di kala kekhilafan ku melanda. Tak bisa lagi memotivasi ku kala aku terjatuh. Tak bisa lagi aku membuat Ayah tersenyum bangga kepadaku di bibir Pantai. Sesudah itu aku dan Ibuku meninggalkan ruang jenazah, saya menoleh kearah jasad Ayah ku lagi dan aku melihat tangan Ayahku menggenggam selembar kertas, lalu perawat menghampiriku, mengerti dengan sikap ku. Dia menyuruhku, untuk membuka genggaman tangan Ayah yang kuat, ternyata itu adalah selembar Raportku. Di balik halaman nilai raport ku tertulis, ” Jika ada yang menemukan raga ku di lautan, mohon jangan lepaskan Raport anakku yang ku genggam erat sampai ajal menjemputku”. Setelah membaca tulisan terakhir Ayahku, aku semakin termotivasi untuk menuruti nasehat Ayahku dan akan kuabadikan raport ini di dalam tas ku, untuk mengingat nya di kala ku terjatuh dalam kerasnya hidup mencapai kesuksesan yang di’impikan seorang Ayah kepada Anaknya. Raport yang memiliki kenangan indah ku bersama Ayahku. Raport yang membuat Ayahku tersenyum bangga terhadapku. Selembar Raport memiliki tanggung jawab besar diri sebagai siswa terhadap Ayah kita yang telah membanting tulang untuk membuat kita menjadi Orang yang Berguna bagi Keluarga bahkan Bangsa dan Negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar