“Bahkan hujan pun tak akan pernah bisa menggantikan air mata ayah, kar. Setelah kuhilangkan rasa kepercayaannya.”
“Aku rasa dia bisa memahaminya, mel” Fikar berusaha menenangkan kegelisahanku.
“Aku rasa dia bisa memahaminya, mel” Fikar berusaha menenangkan kegelisahanku.
Kali pertama aku merasa kecewa atas sikapku. Sore itu kuhabiskan
waktuku bersama senja yang menjelma menjadi kelam. Tidak seperti senja
yang pernah kulewati sebelumnya. Kali ini hatiku merasa hampa setelah
kukecewakan ayah. Sosok yang hampir tak pernah kulihat menangis
disepanjang hidupnya. Namun hari ini air mata itu tumpah, menjebol
benteng ketegarannya. Maafkan aku yang tiba-tiba khilaf, ayah.
Senja telah menjelma menjadi malam. Namun kuurungkan niatku untuk pulang kerumah. Karena kurasa aku tak akan sanggup menatap wajah ayah. Kembali bayang ayah berputar-putar diotakku. Tiba-tiba tubuhku terasa ringan dan melayang, dan akhirnya tubuhku terjatuh. Namun dengan sigap fikar menangkapnya hingga tubuhku tak sempat terjerembab pada pasir dipantai itu.
“Kau tak apa, mel? Kau kelihatan pucat”.
Aku menggeleng lemah. Fikar memapahku untuk duduk. Sementara bayang ayah masih saja berputar-putar diotakku, membuat dadaku terasa sesak. Air mataku tak dapat kubendung. Tumpah diantara kilau pasir laut dan menghilang dengan garang. Seolah-olah pasir pun tak ingin menerima air mataku yang telah durhaka dan menghilangkan kepercayaan ayah. Saat-saat seperti ini selalu kurindukan ibu. Namun kusadari aku tak mampu lagi memeluknya karena kurasa beliau telah tenang disisi Tuhan. Jadi hanya dengan tangis kuluapkan bebanku.
“Amel, lebih baik kau pulang. Ayahmu pasti menghawatirkanmu. Angin laut tak baik untuk kesehatanmu”.
“Untuk apa aku pulang, kar. Sementara air mata ayah tak kunjung berhenti. Aku berdosa karenanya”
“Mel, aku mengenal ayahmu sejak kecil, aku yakin beliau tak akan tega membiarkanmu lebih tersesat. Ia pasti akan menjemputmu dan menjadikanmu gadis kecilnya lagi”
“Pulanglah, Kar. Aku butuh sendiri.!”
“Mel” Fikar masih berusaha membujukku.
Aku hanya tersenyum memberikan tanda bahwa aku baik-baik saja. Fikar kecewa. Ya lebih baik begitu. Hampir dua puluh tahun kami bersahabat, tak pernah kulihat ia kecewa terhadapku. Tapi mungkin lebih baik begitu, agar nanti saat senja kembali berteman denganku, aku bisa merasakan bahwa kehadirannya begitu berarti. Begitu egoiskah anakmu, ayah? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dibenakku.
Sudah kuputuskan malam ini aku tak akan pulang kerumah. Aku akan menginap dirumah Vina, teman kuliahku. Aku rasa aku tak akan sanggup melihat air mata ayah malam ini. Maafkan Amel, ayah. Tapi Amel tak akan sanggup melihat air mata ayah jika Amel pulang kerumah. Biar Dada Amel yang semakin sesak menahan air mata ini.
Senja telah menjelma menjadi malam. Namun kuurungkan niatku untuk pulang kerumah. Karena kurasa aku tak akan sanggup menatap wajah ayah. Kembali bayang ayah berputar-putar diotakku. Tiba-tiba tubuhku terasa ringan dan melayang, dan akhirnya tubuhku terjatuh. Namun dengan sigap fikar menangkapnya hingga tubuhku tak sempat terjerembab pada pasir dipantai itu.
“Kau tak apa, mel? Kau kelihatan pucat”.
Aku menggeleng lemah. Fikar memapahku untuk duduk. Sementara bayang ayah masih saja berputar-putar diotakku, membuat dadaku terasa sesak. Air mataku tak dapat kubendung. Tumpah diantara kilau pasir laut dan menghilang dengan garang. Seolah-olah pasir pun tak ingin menerima air mataku yang telah durhaka dan menghilangkan kepercayaan ayah. Saat-saat seperti ini selalu kurindukan ibu. Namun kusadari aku tak mampu lagi memeluknya karena kurasa beliau telah tenang disisi Tuhan. Jadi hanya dengan tangis kuluapkan bebanku.
“Amel, lebih baik kau pulang. Ayahmu pasti menghawatirkanmu. Angin laut tak baik untuk kesehatanmu”.
“Untuk apa aku pulang, kar. Sementara air mata ayah tak kunjung berhenti. Aku berdosa karenanya”
“Mel, aku mengenal ayahmu sejak kecil, aku yakin beliau tak akan tega membiarkanmu lebih tersesat. Ia pasti akan menjemputmu dan menjadikanmu gadis kecilnya lagi”
“Pulanglah, Kar. Aku butuh sendiri.!”
“Mel” Fikar masih berusaha membujukku.
Aku hanya tersenyum memberikan tanda bahwa aku baik-baik saja. Fikar kecewa. Ya lebih baik begitu. Hampir dua puluh tahun kami bersahabat, tak pernah kulihat ia kecewa terhadapku. Tapi mungkin lebih baik begitu, agar nanti saat senja kembali berteman denganku, aku bisa merasakan bahwa kehadirannya begitu berarti. Begitu egoiskah anakmu, ayah? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dibenakku.
Sudah kuputuskan malam ini aku tak akan pulang kerumah. Aku akan menginap dirumah Vina, teman kuliahku. Aku rasa aku tak akan sanggup melihat air mata ayah malam ini. Maafkan Amel, ayah. Tapi Amel tak akan sanggup melihat air mata ayah jika Amel pulang kerumah. Biar Dada Amel yang semakin sesak menahan air mata ini.
***
Senja kedua yang kuhabiskan hari ini masih sama setelah kemarin kubuat air mata ayah membasahi pipinya. Aku rapuh, ayah, aku rapuh tanpamu. Mungkin hujan senja juga tak akan menggantikan tangis diwajahmu. Lalu harus dengan apa aku menebusnya? Sebab kurasa luka yang kubuat dihatimu telah menghitam.
Kurasa kemarin adalah kematian untuk hatiku. Sebab lukaku semakin bertambah perih saat pelangi dimata ayah tergantikan dengan air mata. Ingin kutebus semua luka kemarin, ayah. Agar aku kembali melihat pelangi dimatamu, agar aku kembali melihat senyum ketegaran diwajahmu. Durhakakah aku ayah? Aku hanya ingin kembali kepelukanmu, menjadi gadis kecilmu yang lugu, yang selalu mendengarkan nasehat-nasehatmu. Namun hatiku terlalu beku untuk meminta maaf padamu. Manusia seperti apa aku ini! Yang tega menebar air mata diwajah senjamu. Jahatkah aku, ayah? Maukah ayah memaafkanku? Tiba-tiba dadaku terasa semakin sesak dari hari kemarin. Aku menangis, disaksikan senja yang belum sempurna tenggelam. Mungkin senja sengaja ingin mencibirku yang telah durhaka padamu. Atau bahkan ia ingin melihatku hujan air mata penyesalan. Entahlah, ayah, yang kufikirkan saat ini adalah bagaimana aku bisa meminta maaf padamu.
Kupeluk lututku, kubenamkan wajahku dalam-dalam. Ingin rasanya kuakhiri hidupku hari itu juga. Namun lagi-lagi wajah ayah berputar-putar dalam otakku. Kalau saja aku tak teringat padamu, ayah, mungkin kini aku tinggal jasad yang tak dapat ayah kenali. Sebab tadi pagi aku berniat berdiri ditengah jalan menunggu mobil membawa nyawaku kembali kepangkuan Tuhan. Namun karenamu, ayah, aku masih bertahan.
Sore itu, senja belum sempurna menghilang ketika kurasa rambutku dibelai tangan yang sangat kukenali. Ayah, benarkah itu tangan ayah. Fikirku. Kuangkat wajahku berlahan. Kusaksikan wajah dan senyum ayah. Ya Tuhan, ayah tersenyum padaku. Tiba-tiba hatiku terasa nyilu. Seorang ayah yang telah terluka olehku masih sanggup tersenyum. Anak macam apa aku ini. Seketika itu aku membaur kedalam pelukan ayah dan berlutut dikakinya.
“Maafin Amel, ayah”
Ayah menuntun aku untuk berdiri, masih dengan senyum. Hatiku terasa getir saat itu. Kutangkap hujan senja diwajah ayah. Aku tau saat itu ayah sedang menangis, namun ia sembunyikan itu sebab tak ingin melihatku merasa bersalah. Namun itu justru membuat air mataku semakin deras mengalir.
Jadilah hari itu hujan senja bagi kami. Kebisuan demi kebisuan menenggelamkan kami untuk berbicara, antara aku dan ayah. Mungkin saat itu senja menantangku untuk meminta maaf pada ayah. Senja pandai menaklukanku, ayah. Harus seperti apa kumulai pembicaraan untuk meminta maaf padamu. Ah, tiba-tiba aku merasa bodoh. Bukankah dia ayahku, kenapa aku terlalu takut untuk memulai pembicaraan.
Kutatap wajah ayah dalam-dalam. Rona wajahnya berubah menjadi sendu. Oh, ayah, aku benar-benar berdosa padamu. Seharusnya malam itu aku mendengarkan nasehatmu. Namun Fikar telah membutakanku hingga aku berani melawanmu. Diam-diam kukutuk lelaki itu. Ia telah mengambil semua yang aku miliki, mengambil yang seharusnya aku jaga baik-baik.
“Mau kemana kamu nak” tanya ayah padaku suatu malam.
“Amel mau pergi dengan Rehan, yah”
Senja kedua yang kuhabiskan hari ini masih sama setelah kemarin kubuat air mata ayah membasahi pipinya. Aku rapuh, ayah, aku rapuh tanpamu. Mungkin hujan senja juga tak akan menggantikan tangis diwajahmu. Lalu harus dengan apa aku menebusnya? Sebab kurasa luka yang kubuat dihatimu telah menghitam.
Kurasa kemarin adalah kematian untuk hatiku. Sebab lukaku semakin bertambah perih saat pelangi dimata ayah tergantikan dengan air mata. Ingin kutebus semua luka kemarin, ayah. Agar aku kembali melihat pelangi dimatamu, agar aku kembali melihat senyum ketegaran diwajahmu. Durhakakah aku ayah? Aku hanya ingin kembali kepelukanmu, menjadi gadis kecilmu yang lugu, yang selalu mendengarkan nasehat-nasehatmu. Namun hatiku terlalu beku untuk meminta maaf padamu. Manusia seperti apa aku ini! Yang tega menebar air mata diwajah senjamu. Jahatkah aku, ayah? Maukah ayah memaafkanku? Tiba-tiba dadaku terasa semakin sesak dari hari kemarin. Aku menangis, disaksikan senja yang belum sempurna tenggelam. Mungkin senja sengaja ingin mencibirku yang telah durhaka padamu. Atau bahkan ia ingin melihatku hujan air mata penyesalan. Entahlah, ayah, yang kufikirkan saat ini adalah bagaimana aku bisa meminta maaf padamu.
Kupeluk lututku, kubenamkan wajahku dalam-dalam. Ingin rasanya kuakhiri hidupku hari itu juga. Namun lagi-lagi wajah ayah berputar-putar dalam otakku. Kalau saja aku tak teringat padamu, ayah, mungkin kini aku tinggal jasad yang tak dapat ayah kenali. Sebab tadi pagi aku berniat berdiri ditengah jalan menunggu mobil membawa nyawaku kembali kepangkuan Tuhan. Namun karenamu, ayah, aku masih bertahan.
Sore itu, senja belum sempurna menghilang ketika kurasa rambutku dibelai tangan yang sangat kukenali. Ayah, benarkah itu tangan ayah. Fikirku. Kuangkat wajahku berlahan. Kusaksikan wajah dan senyum ayah. Ya Tuhan, ayah tersenyum padaku. Tiba-tiba hatiku terasa nyilu. Seorang ayah yang telah terluka olehku masih sanggup tersenyum. Anak macam apa aku ini. Seketika itu aku membaur kedalam pelukan ayah dan berlutut dikakinya.
“Maafin Amel, ayah”
Ayah menuntun aku untuk berdiri, masih dengan senyum. Hatiku terasa getir saat itu. Kutangkap hujan senja diwajah ayah. Aku tau saat itu ayah sedang menangis, namun ia sembunyikan itu sebab tak ingin melihatku merasa bersalah. Namun itu justru membuat air mataku semakin deras mengalir.
Jadilah hari itu hujan senja bagi kami. Kebisuan demi kebisuan menenggelamkan kami untuk berbicara, antara aku dan ayah. Mungkin saat itu senja menantangku untuk meminta maaf pada ayah. Senja pandai menaklukanku, ayah. Harus seperti apa kumulai pembicaraan untuk meminta maaf padamu. Ah, tiba-tiba aku merasa bodoh. Bukankah dia ayahku, kenapa aku terlalu takut untuk memulai pembicaraan.
Kutatap wajah ayah dalam-dalam. Rona wajahnya berubah menjadi sendu. Oh, ayah, aku benar-benar berdosa padamu. Seharusnya malam itu aku mendengarkan nasehatmu. Namun Fikar telah membutakanku hingga aku berani melawanmu. Diam-diam kukutuk lelaki itu. Ia telah mengambil semua yang aku miliki, mengambil yang seharusnya aku jaga baik-baik.
“Mau kemana kamu nak” tanya ayah padaku suatu malam.
“Amel mau pergi dengan Rehan, yah”
“Rehan?!” tiba-tiba nada bicara ayah meninggi. “Sudah berapa kali ayah bilang padamu, Amel . Rehan bukan pria baik-baik!”
“Ayah, Amel sudah dewasa. Amel bisa menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Rehan pria baik-baik, ayah. Rehan selalu memberikan apa yang Amel mau. Biarkan Amel jatuh cinta pada Rehan, Ayah”.
“Tidak Amel ! Sampai kapanpun ayah tak akan merestui hubungan kalian”
Diluar rumah Rehan telah menunggu. Namun ayah menyuruhku masuk ke dalam kamar. Kuturuti apa yang dikatakan ayah. Namun tanpa sepengetahuan ayah, aku melarikan diri lewat jendela dan menemui Rehan. Entah setan apa yang merasukiku malam itu, untuk kali pertama aku membangkang perkataan ayah demi lelaki yang baru aku kenal beberapa minggu belakangan ini.
Malam itu kuhabiskan hidupku untuk berkeliling menghirup udara segar setelah ayah memarahiku. Setelah lelah berkeliling Rehan mengajakku makan disebuah restoran ternama. Namun tanpa aku sadari, malam itu adalah malam bencana untukku. Rehan ternyata telah menyiapkan rencana. Minuman yang ia tawarkan kepadaku telah ia campur dengan obat tidur. Dan aku tak sadarkan diri setelahnya. Entah apa yang terjadi padaku malam itu. Aku tak tau.
Pagi harinya aku baru tersadar. Betapa terkejutnya aku saat kutahui Rehan telah mengambil segalanya dari hidupku. Mengambil yang seharusnya kujaga untuk suamiku kelak. Aku menangis setelah menyadari apa yang baru saja terjadi padaku. Ya lelaki itu telah mengambil segalanya. Bayangan ayah tiba-tiba melintas dibenakku. Oh, ayah, andai aku mengikuti nasehatmu, tentu tak akan seperti ini jadinya. Aku mengutuk diriku sendiri juga lelaki yang bernama Rehan. Laki-laki itu hanya meninggalkan pesan. ‘Terima kasih sayang’. Yang dapat kutangkap dari pesan itu hanyalah Rehan telah mempermainkanku untuk melampiaskan nafsunya.
Aku hanya mampu menangis. Sangat dalam. Hingga kurasakan sekelilingku gelap. Aku tak sadarkan diri. Menjelang siang aku baru kembali pulang kerumah. Ayah telah menungguku dihalaman rumah. Dari raut wajahnya kutangkap kemarahan yang begitu dalam. Aku tau ayah akan marah melihat anak gadisnya pergi malam-malam dan baru pulang setelah hari menjelang siang. Dan kurasa semua ayah didunia ini pun akan melakukan hal yang sama pada anak gadisnya.
Hari itu, aku bagai disambar petir disiang bolong. Untuk kali pertama ayah menamparku. Aku bahkan tak akan pernah menyangka ayah begitu tega menamparku. Aku menangis. Berlutut dikaki ayah. Kuceritakan kronologis kejadian yang menimpaku. Dan setelah itu ayah menangis. Tuhan, betapa jahatnya aku yang tega membuat ayah menangis. Ayah membanting pintu, sementara aku masih menangis tersedu dihalaman rumah.
Aku menghela nafas berat setelah mengingat kejadian malam jahanam itu. Kembali kutatap senja sore ini. Mataku sudah sembab oleh air mata. Sementara disampingku ayah masih menemani.
Ayah adalah sosok yang tak dapat kuuraikan dengan kata. Hadirnya tak pernah terduga. Kadang ia hadir saat aku sedang terluka. Kadang ia juga hadir saat aku sedang tersenyum bahagia. Namun kini betapa teganya aku membuat air mata membasahi pipinya. Ayah, andai waktu dapat kuputar ulang, aku ingin kembali pada hari sebelum aku kehilangan segala yang aku punya, agar aku tak melihat air matamu.
“Ayah” Aku berusaha mencairkan suasana sore itu.
“Sudahlah nak. Ayah telah memaafkanmu”
“Tapi, ayah…”
“Semua telah terjadi, jika ada waktu untuk kembali jalan satu-satunya adalah dengan memperbaiki diri”
“Maafkan Amel, ayah”
Ayah mendekapku. Aku benar-benar merasa bahagia walau hatiku masih terasa sakit. Dalam hati aku menyesali semua yang telah kulakukan.
“Amel, Menikahlah”
Menikah! Kata-kata ayah bagai menikam ulu hatiku. Bagaimana mungkin aku menikah sementara aku seperti ini.
“Ayah, bagaimana mungkin Amel menikah?”
“Amel, usia ayah sudah semakin senja. Ayah ingin menimang cucu darimu. Menikahlah”
“Baiklah, ayah. Amel akan menikah untuk menebus kesalahan Amel. Tapi….”
“Menikahlah denganku, Mel”
Fikar berlutut didepanku dengan cincin ditangannya. Aku hanya terdiam, terkejut. Ayah tersenyum kepadaku, lalu mengangguk memberi tanda bahwa ia merestui aku dan sahabatku Fikar untuk menikah. Aku menatap Fikar.
“Kar, Bagaimana kau…”
" Maka bolehkah aku memilihmu menjadi ibu dari anak-anakku? Biar senja dan ayah yang akan menjadi saksi cinta kita”
“Tapi Kar, aku…” aku tak sanggup meneruskan kata-kataku.
“Kuterima kau apa adanya Mel”
Jadilah hari itu senja bersaksi atas perjalananku. Dan Fikar meminangku dihadapan ayahku tepat saat senja kembali keperaduan waktu. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba menelusup masuk ke dalam hatiku hari itu.
Satu bulan selanjutnya
Dibawah temaram senja Fikar mengucap janji setia sehidup semati dihadapan ayahku, penghulu, dan beberapa saksi. Hari itu kusaksikan ayah kembali menangis demi melihatku telah lepas dari beban hidupnya. Lagi-lagi hari ini hujan senja diwajah kami. Namun hujan senja hari itu bukanlah kesedihan, melainkan air mata bahagia. Oh ayah, tak akan kubiarkan air matamu jatuh lagi. Aku janji padamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar